Find and Follow Us

Jumat, 13 Desember 2019 | 07:42 WIB

Pejabat Pemerintah Jadi Target Peretasan WhatsApp

Sabtu, 2 November 2019 | 23:30 WIB
Pejabat Pemerintah Jadi Target Peretasan WhatsApp
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, San Francisco - Sejumlah pejabat senior pemerintahan di beberapa negara yang bersekutu dengan AS dilaporkan menjadi target peretasan melalui perangkat lunak yang disisipkan lewat aplikasi perpesanan populer WhatsApp.

Mengutip sumber anonim yang terlibat investigasi internal WhatsApp, Reuters melaporkan peretasan itu menargetkan pejabat pemerintah dan militer di sekitar 20 negara yang tersebar di lima benua. Kebanyakan negara tersebut merupakan sekutu AS.

Sebelumnya, WhatsApp menuntut perusahaan teknologi Israel, NSO Group, karena diduga membuat dan menjual perangkat lunak yang mengeksploitasi kerentanan di server WhatsApp.

Baca juga: WhatsApp Tuduh Perusahaan Israel Awasi Penggunanya

Perangkat lunak tersebut diduga membantu klien NSO Group meretas ponsel, sekitar 1.400 pengguna terdampak pada periode 29 April hingga 10 Mei 2019.

Korban peretasan berada di AS, Uni Emirat Arab, Bahrain, Meksiko, Pakistan, dan India, menurut sumber anonim. Tapi, Reuters tidak bisa memverifikasi apakah pejabat pemerintah yang ditargetkan berasal dari negara tersebut.

Sementara, beberapa orang dari India kepada publik menyatakan dugaan mereka menjadi target peretasan pada beberapa hari belakangan, termasuk di antaranya jurnalis, akademisi, pengacara, dan pembela komunitas Dalit India.

Jumlah korban yang diretas diperkirakan lebih banyak dari yang dilaporkan. Seorang pengacara hak asasi manusia di London, Inggris, mengirimkan foto kepada Reuters tentang pihak yang berusaha meretas ponselnya pada 1 April 2019.

Namun, belum jelas siapa yang menggunakan perangkat lunak dari NSO Group untuk meretas. Perusahaan itu menyatakan mereka menjual perangkat pengintai hanya kepada klien pemerintahan.

NSO dalam keterangan resmi menyatakan 'tidak bisa menyebutkan siapa klien mereka atau cara penggunaan teknologi' yang mereka buat. NSO Group pada pernyataan resmi sebelumnya membantah tuduhan dan menyatakan produk mereka hanya dibuat untuk membantu pemerintah untuk mengatasi teroris dan pelaku kriminal.

Sebelum mengirim pemberitahuan kepada korban, WhatsApp memeriksa daftar target dari permintaan penegak hukum untuk informasi yang berkaitan dengan investigasi kriminal misalnya terorisme dan eksploitasi anak.

WhatsApp sudah mengirimkan pemberitahuan kepada pengguna yang terdampak beberapa hari yang lalu. WhatsApp menolak untuk memberitahukan identitas klien NSO Group dan siapa yang menentukan korban target.

Komentar

x