Find and Follow Us

Senin, 9 Desember 2019 | 19:51 WIB

Terkait Gerakan Kemerdekaan Papua Barat

Facebook Hapus Ratusan Akun Palsu Asal Indonesia

Senin, 7 Oktober 2019 | 19:30 WIB
Facebook Hapus Ratusan Akun Palsu Asal Indonesia
(ist)
facebook twitter

INILAHCOM, San Francisco - Facebook mengaku telah menghapus ratusan akun palsu yang sebagian di antaranya diduga melancarkan gerakan terkoordinasi untuk mendukung upaya separatisme di Papua Barat. Adapun sebagian lainnya berlawanan dan mengkritisi pergerakan tersebut.

"Orang-orang di belakang jaringan ini menggunakan akun palsu untuk mengelola Pages, menyebarkan konten, dan mengalihkan pengguna ke situs lain," tulis Nathaniel Gleicher, Head of Security Facebook, dalam laporan di Facebook Newsroom.

Unggahan akun-akun palsu tersebut ditulis dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Meski pemiliknya berupaya menyamarkan identitas, Facebook menemukan keterkaitan antara akun-akun palsu dengan perusahaan media InsightID asal Indonesia.

Jumlah akun palsu yang dihapus mencakup 69 akun Facebook, 42 Pages, dan 34 akun Instagram. Dua Pages yang dihapus antara lain bernama 'Papua West' dan 'West Papua Indonesia'.

Akun-akun dan Pages palsu tersebut memiliki pengikut (follower) berjumlah cukup besar. Gleicher menjelaskan setidaknya 410 ribu akun mengikuti satu laman atau lebih di Facebook. Di Instagram, ada sekitar 120 ribu akun yang mengikuti setidaknya satu akun palsu dimaksud.

Pemillik jaringan akun palsu tersebut juga membelanjakan uang sejumlah US$300.000 atau sekitar Rp4,2 miliar untuk mengoptimalkan penyebaran kontennya melalui Facebook Ads.

Selain di Indonesia, Facebook turut menghapus jaringan akun palsu yang ditemukan di beberapa negara lain, yakni Uni Emirat Arab, Nigeria, dan Mesir. Jumlah akun dan Pages palsu yang dihapus juga mencapai ratusan.

"Kampanye-kampanye akun palsu (di Uni Emirat Arab, Nigeria, Mesir, dan Indonesia) ini tidak saling terkait. Tapi masing-masingnya membuat jejaring akun palsu untuk menyesatkan pengguna lain tentang siapa mereka dan apa yang mereka kerjakan," tambah Gleicher. [ikh]

Komentar

x