Find and Follow Us

Selasa, 19 November 2019 | 19:34 WIB

Microsoft: Peretas Iran Recoki Pilpres AS 2020

Senin, 7 Oktober 2019 | 15:30 WIB
Microsoft: Peretas Iran Recoki Pilpres AS 2020
(spyware.com)
facebook twitter

INILAHCOM, Redmond - Microsoft mengungkap temuan baru mereka terkait keberadaan kelompok peretas asal Iran yang mulai melakukan langkah-langkah untuk interferensi Pemilu Presiden AS 2020.

Kelompok peretas bernama Phosphorus itu terpantau oleh Microsoft Threat Intelligence Center (MSTIC).

"Kami melihat aktivitas siber yang signifikan dari grup ancaman yang kami sebut Phosphorus, yang diyakini berasal dari Iran dan memiliki asosiasi dengan Pemerintah Iran," sebut Microsoft dalam sebuah postingan di situs resminya.

Selama 30 hari antara Agustus hingga September 2019, Phosphorus diketahui telah melakukan 2.700 kali percobaan mengidentifikasi akun email milik pelanggan Micosoft tertentu.

Dari jumlah tersebut, 241 email di antaranya berupaya dibobol oleh Phosphorus. Akun-akun yang menjadi sasaran ini terkait dengan kampanye Pilpres AS, pejabat AS, wartawan yang meliput politik global, serta tokoh-tokoh Iran yang hidup di luar negeri.

Microsoft tak menyebutkan kampanye siapa yang diincar oleh Phosphorus. Namun, keterangan sumber yang berbicara kepada Reuters menyebutkan sasarannya tak lain merupakan kampanye Presiden AS Donald Trump.

Situs kampanye resmi Trump memang terhubung dengan layanan komputasi awan (cloud) milik Microsoft. Meski demikian, tim kampanye capres pertahana ini mengaku belum melihat adanya upaya meretas sistem mereka.

Sebanyak 19 calon kandidat dari Partai Demokrat akan bersaing untuk dinominasikan sebagai lawan Donald Trump pada 2020. Sementara dari Partai Republik, setidaknya sudah ada tiga orang yang menyatakan berminat menggeser Trump sebagai jagoan partai.

Interferensi pemilu melalui jalur siber bisa mengacaukan proses demokrasi dengan menggiring opini publik sesuai kehendak si penyerang.

Misalnya saja, Rusia marak dituding menginterferensi Pilpres AS 2016 sehingga berujung pada kemenangan Trump. Tuduhan tersebut sudah berulang kali dibantah oleh Moskow. [ikh]

Komentar

x