Find and Follow Us

Jumat, 18 Oktober 2019 | 16:21 WIB

Lahirkan Inovasi, BRI Gelar Kompetisi Hackaton

Oleh : Ibnu Naufal | Selasa, 24 September 2019 | 03:30 WIB
Lahirkan Inovasi, BRI Gelar Kompetisi Hackaton
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Di tengah perhelatan Indonesia Finance Summit Expo (IFSE) 2019 yang berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC), 23-24 September 2019, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menggelar kompetisi pengembangan layanan berbasis BRIAPI (BRI Application Programming Interface) sebagai upaya melahirkan inovasi baru maupun solusi dari permasalahan yang ada di tengah masyarakat.

Bernama 'BRI Hackathon Digital Challenges', ajang kompetisi ini merupakan gelaran hackhaton yang dilakukan BRI di IFSE 2019 dengan tujuan menciptakan solusi dan inovasi-inovasi terbaru untuk membangun ekosistem digital di Indonesia.

Direktur Digital, Teknologi Informasi, dan Operasi Bank BRI, Indra Utoyo, mengatakan bahwa sebagai bank dengan jaringan terbesar di Indonesia, BRI ingin membuka peluang berkolaborasi dengan startup fintech.

Pihaknya sangat terbuka bagi startup fintech untuk memanfaatkan produk Open Banking BRI atau platform digital milik BRI yakni BRIAPI (BRI Application Programming Interface).

"Kami ingin menantang para pengembang aplikasi agar melahirkan produk dan layanan baru bagi masyarakat menggunakan BRIAPI yang sudah kita sediakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan," ujar Indra di JCC, Senin malam (23/9/2019).

Tema 'Innovation for Inclusion' yang diusung oleh IFSE 2019, menurut dia, sudah sejalan dengan visi BRI dalam menyediakan layanan keuangan bagi masyarakat Indonesia yang tersebar hingga ke pelosok negeri.

"BRI adalah institusi keuangan mikro terbesar di dunia. BRI dalam rangka melayani ke seluruh pelosok Tanah Air tentu memerlukan infrastruktur jaringan agar layanan kita bisa hadir. BRIAPI adalah platform pertama di Indonesia yang telah tersertifikasi dan mendapat izin dari regulator dan satu-satunya API yang telah mendapat sertifikasi ISO 27001 dalam rangka membangun super ekosistem di Tanah Air dan kita ingin memastikan no one left behind," tambah Indra.

BRIAPI diharapkan bisa menjadi jembatan penghubung antara BRI dan industri startup yang terus berkembang, utamanya untuk meningkatkan brand awareness transformasi digital yang telah dilakukan Bank BRI kepada pelaku startup.

Namun lebih dari itu, BRIAPI menjadi cara bagi RI untuk membuka potensi kerja sama dengan sekitar 50 startup yang nantinya terpilih dalam event hackhaton tersebut.

Bentuk kerja samanya antara lain dilakukan oleh BRI Ventures yang akan berperan sebagai investor untuk membangun startup fintech terpilih yang fokus dan kuat pada pembentukan ekosistem. Nilai investasi awal yang disiapkan BRI Ventures guna mengembangkan startup fintech terpilih bisa mencapai US$250 juta.

Selain itu juga ada BRI Institute sebagai universitas fintech pertama di Indonesia. Startup fintech terpilih bisa mengikuti tahap inkubasi sekaligus mempelajari lebih jauh mengenai industri fintech.

BRI Institute sendiri memiliki visi untuk menjadi pusat pendidikan perbankan terdepan se-ASEAN di tahun 2030. Fasilitas pendidikan ini dilengkapi mulai dari perpustakaan digital, ruang praktik, percontohan perbankan, dan lain-lain.

"Sedangkan program studi yang ditawarkan BRI Institute, di antaranya adalah micro finance, perbankan digital, perbankan syariah digital, bisnis dan keuangan perbankan, teknologi asuransi, dan technopreneurship," jelas Indra.

Sementara itu, IFSE 2019 juga akan dimanfaatkan BRI untuk berbagi informasi mengenai transformasi digital yang telah dilakukan, termasuk tentang pentingnya membangun ekosistem digital.

Forum diskusi ini diharapkan mampu memberi gambaran lebih dalam bagi industri fintech, penggiat startup fintech, maupun pengunjung yang hadir terkait ekosistem digital dalam mendukung inklusi keuangan di Indonesia.

Industri fintech kian tumbuh pesat di Indonesia. Mengacu data yang dirilis AFTECH pada tahun ini, dari 235 startup fintech berbagai sektor pada tahun 2018 lalu, sektor payment mencatatkan porsi terbesar mencapai 39 persen, dan kemudian diikuti oleh sektor lending atau pinjaman di angka 32 persen. [ikh]

Komentar

x