Find and Follow Us

Kamis, 17 Oktober 2019 | 23:02 WIB

Buta Karena Cuma Makan Keripik dan Kentang Goreng

Rabu, 4 September 2019 | 04:30 WIB
Buta Karena Cuma Makan Keripik dan Kentang Goreng
facebook twitter

INILAHCOM, London - Sejumlah pakar kesehatan memperingatkan bahaya tabiat 'pilih-pilih makanan' setelah seorang remaja 17 tahun mengalami kerusakan pada mata lantaran hanya menyantap keripik dan kentang goreng.

Beberapa dokter mata di Bristol, Inggris, menangani remaja tersebut seusai penglihatannya memburuk hingga menjadi buta.

Mengutip BBC News, sejak lepas dari bangku sekolah dasar, remaja itu hanya mengonsumsi kentang goreng, keripik Pringles, roti, dan sesekali seiris daging atau sosis.

Serangkaian tes mengungkap bahwa dia mengalami kekurangan vitamin dan gizi yang sangat parah.

Pilih-pilih makanan

Remaja yang namanya tidak dipublikasikan itu sudah berkonsultasi ke dokter umum pada usia 14 tahun karena mengeluh lelah dan tidak enak badan.

Saat itu, dia didiagnosis kekurangan vitamin B12 dan diberikan suplemen. Namun, dia tidak menjalani perawatan dengan konsisten dan justru meneruskan pola makan yang tidak sehat.

Selang tiga tahun kemudian, dia dibawa ke Rumah Sakit Mata Bristol karena penglihatannya semakin buruk, sebut laporan jurnal Annals of Internal Medicine.

Dr Denize Atan, yang menangani remaja itu di rumah sakit mengatakan bahwa menu makanan remaja itu sehari-hari utamanya seporsi kentang goreng dari lapak fish and chip setempat.

"Dia juga mengemil keripik --Pringles-- dan kadang kala sepotong roti putih dan sesekali seiris ham. Tapi sama sekali tidak ada buah dan sayur," ujar Dr Atan.

"Menurutnya itu karena dia menghindari tekstur makanan tertentu yang dia benar-benar tidak bisa tolerir. Sehingga keripik dan kentang goreng adalah jenis makanan yang dia inginkan dan bisa dia makan," imbuhnya.

Dr Atan dan kolega-koleganya mengecek kembali taraf vitamin remaja tersebut dan menemukan bahwa dia kekurangan B12 serta vitamin-vitamin dan mineral-mineral penting lainnya, seperti tembaga, selenium, serta vitamin D.

Temuan mengejutkan

Remaja itu tidak kekurangan bobot tubuh, tapi mengalami kurang gizi yang parah.

"Dia kehilangan mineral-mineral pada tulangnya, yang benar-benar mengejutkan pada remaja pria seusianya," kata Dr Atan.

Dalam kategori penglihatan, dia masuk kategori buta.

"Dia punya titik buta persis pada bagian tengah penglihatannya. Itu artinya dia tidak bisa mengemudi dan akan sangat kesulitan membaca, menonton acara TV, atau mengenali wajah," papar Dr Atan.

"Dia bisa berjalan sendiri, karena dia punya pandangan periferi," tambahnya.

Neuropati optik nutrisi --keadaan yang dialami remaja itu-- sesungguhnya dapat ditangani jika didiagnosa secara dini. Namun, jika dibiarkan terlalu lama, serat-serat pada saraf optik mati dan kerusakannya menjadi permanen.

Dr Atan mengatakan kondisi seperti ini tidak lazim, namun dia menyarankan para orang tua paham potensi ancaman yang ditimbulkan ketika anak pilih-pilih makanan.

Bagi pihak yang merasa risau, Dr Atan menganjurkan untuk lebih baik tidak cemas soal pilih-pilih makanan, tapi secara tenang perkenalkan satu atau dua makanan setiap hidangan.

Menurutnya, tablet multivitamin bisa menjadi suplemen, tapi bukanlah pengganti makanan sehat.

"Baiknya mengonsumsi vitamin melalui hidangan yang beragam dan seimbang," kata Dr Atan, seraya menambahkan bahwa terlalu banyak mengonsumsi vitamin tertentu, termasuk vitamin A, bisa berbahaya.

Dr Atan menambahkan, kaum vegan juga berisiko mengalami masalah penglihatan yang berkaitan dengan kekurangan vitamin B12 jika mereka tidak mengganti apa yang hilang ketika menyingkirkan daging dari menu.

"Ragi nutrisi adalah cara untuk menambah B12 ke makanan," ungkapnya.

Sumber-sumber vitamin B12 untuk kaum vegan meliputi:
- Sereal sarapan yang ditambahkan B12
- Minuman kedelai tak bergula yang ditambahkan B12
- Ekstrak ragi yang ditambahkan B12

Rebecca McManamon, konsultan diet sekaligus juru bicara Asosiasi Diet Inggris, mengatakan diet yang sarat dengan pantangan mungkin diterapkan untuk beragam alasan, termasuk kelainan kebiasaan makan, alergi, dan autisme.

Pola diet ini ditentukan melalui penilaian dokter spesialis. [ikh]

Komentar

x