Find and Follow Us

Minggu, 8 Desember 2019 | 17:30 WIB

Batu Apung Seluas 150 Km2 Penuhi Samudera Pasifik

Selasa, 3 September 2019 | 20:30 WIB
Batu Apung Seluas 150 Km2 Penuhi Samudera Pasifik
(BBC)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Kumpulan batu-batu vulkanis seluas lebih dari 150 kilometer persegi mengapung di Samudra Pasifik, demikian laporan sejumlah ilmuwan.

Lautan batu apung itu pertama kali dilaporkan oleh pelaut Australia di pertengahan Agustus lalu.

Mengutip BBC News, para pengamat mengatakan batu tersebut kemungkinan berasal dari gunung api bawah laut di dekat Tonga yang erupsi sekitar 7 Agustus 2019 menurut foto satelit.

Para pelaut pun telah diperingatkan untuk menghindarinya.

Batu apung adalah jenis batu ringan, penuh rongga yang dapat mengapung di air. Batu ini berasal dari magma yang mendingin dalam waktu cepat.

Kumpulan batu vulkanis dalam ukuran besar kemungkinan besar akan terbentuk ketika gunung api berada di air yang lebih dangkal, kata para ahli.

Pasangan warga Australia yang sedang berlayar menggunakan katamaran ke Fiji adalah orang pertama yang melaporkan 'lautan batu apung', setelah secara tidak sengaja mengarunginya pada malam hari.

"Tak ada gelombang besar dan kapal hanya bergerak dengan kecepatan satu knot," tulis Michael Hoult dan Larissa Brill di media sosial mereka pada 16 Agustus 2019.

"Kumpulan batu terlihat luas sekali di bawah cahaya bulan, disinari lampu kami," imbuh mereka.

Pasangan Hoult dan Brill sempat untuk sementara terhenti berlayar karena batu menghambat kemudi, tetapi kemudian mereka dapat berlayar keluar.

Mereka pun mengirim sampel batu apung --kira-kira sebesar bola basket-- kepada para peneliti di Queensland University of Technology (QUT), Australia.

Profesor Scott Bryan, ahli geologi yang mengkaji sampel tersebut di QUT, mengatakan bahwa batu apung terlihat setiap lima tahun di wilayah tersebut.

"Ini adalah gejala yang telah dilaporkan sebelumnya, biasanya sebagai kepulauan di tengah laut yang orang temukan tetapi kemudian tidak terlihat kembali," katanya kepada BBC News.

Profesor Bryan mengatakan, foto satelit memperlihatkan lahan tersebut telah terbagi dua bagian utama, dengan sejumlah 'pita' batu.

"Saat ini terdapat lebih dari satu triliun batu apung, tetapi kemudian batu akan terpecah dan menyebar di laut," katanya.

Batu apung saat ini bergerak ke arah barat menuju Fiji dan kemungkinan akan melintasi Kaledonia Baru dan Vanuatu. Kumpulan batu apung itu diperkirakan akan mencapai Australia dalam satu tahun ke depan.

Komentar

Embed Widget
x