Find and Follow Us

Jumat, 20 September 2019 | 22:02 WIB

AS Masih Beri 'Nafas' ke Huawei Hingga 90 Hari

Selasa, 20 Agustus 2019 | 20:20 WIB
AS Masih Beri 'Nafas' ke Huawei Hingga 90 Hari
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, San Francisco - Ketika nama Huawei masuk ke dalam black list perdagangan AS pada Mei lalu, Pemerintah AS memberikan penangguhan hukuman selama 90 hari.

Dalam waktu 90 hari itu Huawei masih diperkenankan untuk membeli komponen dari perusahaan AS, memperbarui perangkat lunak untuk handset, serta melakukan pemeliharaan peralatan jaringan.

Berdasarkan perhitungan, waktu penangguhan tersebut seharusnya telah berakhir pada Senin kemarin (19/8/2019). Namun, tampaknya Pemerintah AS masih akan memberikan 'nafas' tambahan bagi Huawei.

Menurut seorang sumber anonim, Pemerintah AS disebut memberi perpanjangan izin bisnis Huawei di AS selama 90 hari ke depan.

Artinya, hukuman yang dijatuhkan pada Huawei masih belum akan berlaku dalam tiga bulan ke depan, atau setidaknya sampai pertengahan November mendatang.

Mengutip Phone Arena, Huawei mendapat pemboikotan dari Pemerintah AS karena dituduh menjadi ancaman keamanan nasional. Huawei dituduh memata-matai AS dan memberikan data tersebut ke Pemerintah China.

Tentu saja, Huawei pun telah menyangkal tuduhan ini berulang kali. Bahkan Chairman Huawei Liang Hua juga berkali-kali menawarkan penandatanganan kontrak 'No-Spy' agar Pemerintah AS mau mempercayainya.

Meski kebijakan itu terlihat akan merugikan Huawei, nyatanya pihak yang mengalami kerugian justru adalah perusahaan asal AS itu sendiri.

Posisi Huawei sejatinya sudah menjadi rekan bisnis yang sangat penting dan menjadi 'pelanggan tetap' bagi perusahaan pemasok komponen yang berasal dari AS.

Pada 2018 lalu, Huawei tercatat menghabiskan lebih dari US$11 miliar untuk berbelanja komponen dari perusahaan AS, dan itu pun menjadi sumber keuntungan bagi perusahaan seperti Qualcomm, Intel, dan Micron yang bertindak sebagai pemasok komponen.

Raksasa teknologi asal China ini juga awalnya disebut bakal kehilangan lisensi sistem operasi Android untuk lini ponselnya. Namun, kemudian Huawei bertindak cepat dengan mengembangkan sistem operasi Hongmeng yang dipersiapkan sebagai pengganti Android.

Hongmeng yang diperkenalkan dengan nama resmi HarmonyOS pun mendapat dukungan dari sejumlah vendor smartphone asal China. Dengan demikian, posisi Android justru yang terancam kehilangan pendapatan besar jika Huawei benar-benar tak lagi menggunakan Android.

Apalagi saat ini penjualan smartphone Huawei berada di tiga besar dunia bersama Samsung dan Apple. Huawei pun diperkirakan akan menjadi produsen smartphone terbesar di dunia pada kuartal keempat tahun ini.

Tahun lalu, Huawei berhasil mengapalkan sekitar 206 juta unit smartphone dan menduduki peringkat ketiga setelah Samsung dan Apple.

Komentar

x