Find and Follow Us

Jumat, 20 September 2019 | 13:43 WIB

20% Smartphone di Indonesia dari 'Black Market'

Selasa, 9 Juli 2019 | 07:30 WIB
20% Smartphone di Indonesia dari 'Black Market'
(ist)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Sekitar 20 persen dari smartphone yang beredar di Tanah Air, masuk ke Indonesia tanpa melalui registrasi dan sertifikasi dari pihak berwenang atau ilegal melalui saluran pasar yang biasa disebut sebagai 'black market'.

Jika dalam setahun ada 45 juta unit smartphone yang terjual di Indonesia, berarti sekitar 9 juta di antaranya adalah ilegal dengan nomor International Mobile Equipment Identity (IMEI) tidak terdaftar di lembaga berwenang di sini, demikian menurut Asosiasi Ponsel Seluruh Indonesia (APSI) dalam siaran persnya.

Director Government Affairs Qualcomm International Nies Purwati menjelaskan, masih tingginya peredaran smartphone ilegal di Indonesia didorong oleh sejumlah faktor.

Diterapkannya sistem DIRBS (Device Identification, Registration, and Blocking System) untuk pengendalian IMEI. Hal tersebut memicu peredaran smartphone 'black market' yang tujuan awalnya ke negara lain, beralih ke Indonesia.

Ada juga smartphone ilegal yang bersumber dari dalam negeri, baik perakitan maupun penjualannya, baik melalui media sosial maupun dijual via toko online.

"Untuk Indonesia, kategori smartphone ilegal ditambah lagi, illegal smuggling, smartphone BM (black market)," ujar dia.

Perkiraan APSI, potensi nilai pajak yang hilang dari penjualan smartphone secara ilegal di Indonesia mencapai Rp2,8 triliun per tahun.

Beberapa kategori yang membuat smartphone dikatakan ilegal menurut GSMA adalah IMEI tidak sesuai format, IMEI tidak valid, adanya penggandaan IMEI, penyalahgunaan IMEI dan penggunaan IMEI sementara.

IMEI adalah kode unik dari setiap perangkat ponsel yang berlaku secara internasional.

Kode IMEI terdiri dari 14 hingga 16 digit. Nomor IMEI ini bukan semata untuk keperluan dagang, dan untuk mengetahui tipe ponsel, tapi juga untuk keamanan ponsel yang dipakai.

Nomor IMEI juga dapat dicek dengan mengetik *#06# dan ketuk tombol menelepon.

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Perindustrian bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika serta Kementerian Perdagangan, akan membuat regulasi terkait validasi IMEI dengan sistem DIRBS atau Sistem Informasi Registrasi Identifikasi Nasional (SIRINA) dalam upaya mengendalikan peredaran ponsel ilegal melalui kontrol IMEI.

Aturan yang diterapkan untuk pengendalian database nomor identitas asli ponsel (IMEI) akan ditetapkan pada 17 Agustus 2019.

Komentar

x