Find and Follow Us

Kamis, 19 September 2019 | 16:15 WIB

AS: Drone Buatan China Bahayakan Keamanan Nasional

Jumat, 14 Juni 2019 | 20:00 WIB
AS: Drone Buatan China Bahayakan Keamanan Nasional
(youtube)
facebook twitter

INILAHCOM, Fremont - Raksasa pembuat drone China, DJI, telah menjual produk besutan mereka kepada polisi dan dinas pemadam kebakaran AS. Tapi kini Pemerintah AS memperingatkan bahwa drone buatan China itu bisa mencuri data-data yang sensitif.

Dinas pemadam kebakaran di Kota Fremont, California, telah menggunakan drone buatan DJI lebih dari 200 kali dalam masa dua tahun terakhir.

Penyelamatan seorang anak yang tuli di Fremont belum lama ini kemungkinan besar disebabkan kamera sinar infra merah yang bisa melihat anak itu di sebuah jurang pada malam hari. Kamera yang terpasang pada drone buatan DJI itu memberikan informasi penting kepada polisi.

Kepala dinas pemadam kebakaran Fremont, Jeff Kleven, mengatakan bahwa drone telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam pelaksanaan tugas mereka sehari-hari.

"Kami menggunakannya untuk semua hal, mulai dari pemantauan kebakaran, pemeriksaan bahan-bahan berbahaya sampai pada operasi penyelamatan," ucapnya, seperti dilansir VOA News.

Tapi, kini membeli drone buatan China bisa dianggap berbahaya. Departemen Keamanan Dalam Negeri AS belum lama ini mengulangi peringatan bahwa data yang diperoleh drone buatan China itu bisa dikirim kembali ke negeri asalnya.

Tuduhan ini langsung dibantah oleh DJI. Tapi bagi dinas pemadam kebakaran Freemont, peringatan ini bisa dianggap sebagai nasihat supaya melakukan praktik aman dalam penyimpanan dan pengiriman informasi.

Sekitar1.000 dinas keamanan publik di AS menggunakan drone, kata Romeo Durscher, pejabat DJI. Perusahaan itu bekerja sama dengan badan-badan keamanan tadi untuk melatih dan menyiapkan mereka dalam penggunaan drone untuk memadamkan kebakaran hutan di California.

Karena pemerintah AS telah mengajukan keprihatinan tentang drone China itu, DJI juga meningkatkan pengawasan data dan keamanan bagi para pelanggannya.

"Kami telah memasang lebih banyak perangkat lunak supaya para pengguna bisa sepenuhnya mengontrol data yang diperoleh. Bisnis kami bukan untuk mengontrol data. Kami memberikan peralatan kepada pelanggan untuk menentukan bagaimana data itu diproses dan disimpan atau dikirim ke tempat lain," kata Durscher.

Tampaknya, teknologi yang digunakan sehari-hari untuk menyelamatkan nyawa kini menjadi bahan kecurigaan antara dua negara adidaya yang bersaing dalam bidang teknologi itu.

Komentar

x