Find and Follow Us

Senin, 22 Juli 2019 | 13:14 WIB

Studi Terbaru: Kita Hanya 43% Manusia

Minggu, 9 Juni 2019 | 21:21 WIB
Studi Terbaru: Kita Hanya 43% Manusia
(VOA News)

INILAHCOM, San Diego - Berbagai penemuan baru tentang apa yang ada di dalam tubuh kita membuat para ilmuwan memikirkan kembali apa yang membuat kita menjadi manusia dan apa yang membuat seseorang sakit atau sehat.

Kurang dari setengah sel di tubuh kita adalah sel-sel manusia. Sisanya adalah mikroorganisme yang mempengaruhi kesehatan, perasaan hati, dan apakah orang-orang tertentu merespon lebih baik pada pengobatan-pengobatan tertentu.

"Jadi untuk setiap 30 triliun sel-sel manusia, kita memiliki rata-rata sekitar 39 triliun sel mikroba. Jadi dengan standar itu, kita hanya 43 persen manusiawi," ujar Rob Knight, direktur Pusat Inovasi Mikrobioma di University of California San Diego yang juga profesor kedokteran anak dan ilmu komputer serta teknik.

Ada lebih banyak sel mikroba di tubuh seseorang dibandingkan sel manusiawi. Mikroba di tubuh manusia termasuk bakteri, virus, dan jamur, seperti bakteri spora jamur di air.

Mikroba yang mempengaruhi kesehatan

Merupakan sebuah pengetahuan umum bahwa bakteri, atau bahkan virus dan jamur, hadir di bagian-bagian tertentu di tubuh kita, termasuk mulut, kulit, dan pencernaan.

Meski demikian, hanya pada tahun-tahun belakangan para ilmuwan telah menemukan bahwa setiap bakteri di pencernaan orang bersifat unik, dan kumpulan mikroba dapat berdampak besar pada kesehatan orang, seperti bobot tubuh kita dan apakah mereka akan terkena penyakit seperti penyakit jantung.

Mikroba di saluran pencernaan bahkan dapat mempengaruhi perasaan hati. Para peneliti tengah mempelajari apakah kondisi-kondisi seperti autisme, multiple sclerosis, dan penyakit Parkinson terkait dengan mikroba.

"Mereka mengubah cara kita berpikir tentang biologi, dan mengubah cara kita berpikir tentang apa maknanya untuk menjadi manuisa," tutur Knight.

Kumpulan mikroba pada masing-masing orang berbeda, mulai saat bayi dilahiran. Bagaimana mereka memasuki dunia, apakah dilahirkan melalui vagina atau kelahiran caesar, apakah mereka diberi ASI atau tidak, jenis hewan dimana mereka terpapar dan pengobatan yang mereka konsumsi, semua dapat berdampak pada pertumbuhan mereka.

"Problem terbesar dengan antibiotik adalah masa dini kanak-kanak, dan khususnya kombinasi antara kelahiran caesar dan antibiotik serta pemberian susu dengan susu botol khususnya buruk bagi anak-anak. Kami akan lihat dampaknya bahkan pada usia 8 hingga 12, khususnya dari segi berat badan, bahkan dari segi performa kognitifnya," ujar Knight.

Teka-teki kanker

Karen Sfanos, asisten profesor patologi, onkologi, dan urologi pada Johns Hopkins University School of Medicine, menyatakan para peneliti setidaknya 70 persen kekebalan tubuh manusia dan sel kekebalan ada di dalam saluran pencernaan.

Dia tengah mempelajari kaitan antara mikroba dan kanker.

"Masih ada banyak kanker di luar sana dimana kita tidak memahaminya bahkan apa penyebab kankter tersebut. Kita telah berusaha untuk memecahkan teka-teki ini, dan hingga saat ini, setengah dari kepingan teka-teki itu masih belum terpecahkan karena kita bahkan tidak mengetahui setengah dari kepingan teka-teki yang ada," papar Sfanos.

"Ada begitu banyak pengetahuan yang harus kita peroleh dan harus kita teliti untuk memahami pengaruhnya yang mendalam yang kemungkinan disebabkan oleh semua mikroba ini baik apa pemicu kanker namun juga terapi yang dibutuhkan terhadap terapi kanker tertentu," imbuh dia,

Apa yang mempengaruhi semua mikroba ini dalam tubuh orang dewasa sebagian besar adalah pola makan dan jenis-jenis tanaman yang berbeda yang dimakan oleh seseorang.

"Dengan pola makan yang tinggi lemah atau pola makan yang tidak sehat, pola makan ini dapat menyebabkan aktifnya mikroba yang menyebabkan peradangan. Pola makan ini dapat menyebabkan peradangan di saluran pencernaan, dan sayangnya, dalam skenario ini, peradangan yang terjadi dalam saluraan pencernaan dapat memiliki efek jangka panjang pada banyak sistem organ lannya di tubuh kami," tutur Sfanos.

Satu perusahaan, DayTwo, menggunakan temuan mikroba di saluran pencernaan ini untuk menanggulangi diabetes.

"Keanekaragaman dan jumlah bakteria yang banyak di saluran pencernaan adalah peramal yang sangat berguna dalam memperkirakan bagaiman orang memproses makanan," ujar Josh Stevens, CEO DayTwo.

Karena bakteri pada saluran pencernaan setiap orang berbeda, bagaimana tubuh beraksi pada gula juga berbeda pada setiap orang.

"Jadi dengan membuat profil saluran masing-masing orang, kita dapat benar-benar menolong orang untuk mendapatkan resep yang dibuat khusus untuk masing-masing orang untuk makanan yang dapat berfungsi untuk mereka," kata Stevens.

Membedakan yang baik dari yang buruk

Mikroba dalam tubuh berubah setiap hari. Semakin banyak ilmuwan yang melakukan penelitian semua mikroba ini untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Hsail yang diperoleh benar-benar menjajikan dalam mengobati infeksi yang diperoleh dari rumah sakit yang disebut C-diff.

"Anda dapat mengobati C-diff dengan mengambil tinja dari orang yang sehat dan memberikannya pada orang yang sakit," ucap Knight.

"Pada umumnya mereka yang sakit akan pulih dalam waktu dua hingga tiga hari. Peluang untuk sembuh mencapai 90 persen, dibandingkan dengan antibiotika yang tingkat kesembuhannya mencapai 30 persen," lanjut dia.

Prosesnya adalah dengan mencampur sampel tinja dari orang yang sehat ke dalam sebuah cairan preparat dan memberikannya kepada orang yang sakit lewat pipa penyalur atau kolonoskopi.

Para peneliti tengah bekerja merintis masa depan dimana ada pendekatan yang lebih tepat untuk memisahkan bakteri yang jahat dan memasukkan mikroba yang lebih baik ke dalam tubuh untuk meningkatkan kesehatan. [VOA News]


Komentar

Embed Widget
x