Find and Follow Us

Kamis, 19 September 2019 | 22:28 WIB

Blockchain Bikin Monetisasi Data Lebih Transparan

Oleh : Ibnu Naufal | Selasa, 21 Mei 2019 | 20:50 WIB
Blockchain Bikin Monetisasi Data Lebih Transparan
(Foto: istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM,Jakarta - Model monetisasi data yang ada saat ini bersifat tertutup dan amat bergantung pada perusahaan penyedia aplikasi sebagai perantara (intermediary).

Para perantara tersebut memiliki keleluasaan untuk mengumpulkan mengolah, lalu kemudian menjualnya kepada pihak ketiga.

Pengguna sama sekali tidak memiliki kendali atas data yang mereka munculkan setiap saat melalui aplikasi media sosial, permainan, pasar digital, maupun transportasi daring yang penggunaanya saat ini sudah menyentuh banyak aspek kehidupan.

Memang benar bahwa pada setiap aplikasi terdapat ketentuan layanan pelanggan yang biasanya menyebutkan bahwa para penyedia aplikasi tersebut boleh jadi akan mengumpulkan data dari pelanggan untuk kepentingan tertentu. Namun demikian, kebanyakan pelanggan sama sekali tidak menyadari akan hal ini terlebih pada fakta bahwa data tersebut kemudian akan diperjualbelikan.

Menyadari akan hal ini, SwipeCrypto sebuah proyek keterlibatan data bergerak (mobile engagement data) dengan menggunakan teknologi blockchain, menawarkan sebuah aturan main baru di mana para pihak yang terlibat dalam lalu-lintas data akan mendapatkan bagian yang adil dan transparan.

"Data transaksi nasabah, pergerakan orang, dan pilihan belanja seharusya tidak secara sepihak dijual kepada pihak ketiga tanpa disetujui oleh pemakai aplikasi sebagai sumber data," kata Clifford Lim, CEO dari SwipeCrypto dalam siaran persnya, Selasa (21/5/2019).

Dalam ekosistem SwipeCrypto, pengguna aplikasi merupakan sisi penjual yang memiliki kendali atas data pribadi. Sehingga mereka bisa memilih data apa saja yang akan dibuka ke pasar data atau bahkan bisa memilih untuk sama sekali tidak membagikan datanya.

Pengembang aplikasi akan tetap mendapatkan bagian sewajarnya namun tidak lagi menjadi penguasa data satu-satunya karena tata kelola data dilakukan secara terdesentralisasi. Keterlibatan baik di sisi pengguna maupun pengembang aplikasi akan diganjar dengan nilai tertentu dalam hal ini aset kripto.

Sudah umum diketahui bahwa korporasi yang bergerak di berbagai sektor, besar maupun kecil, membutuhkan data untuk kepentingan riset pemasaran. Tak jarang mereka menyewa konsultan riset pemasaran khusus dan bersedia membayar mahal hanya untuk mengumpulkan data pelanggan melalui metode survei.

Kini model pengumpulan data tersebut sudah mulai ditinggalkan dan digantikan oleh para penyedia aplikasi yang amat kaya akan data pengguna. Pengumpulan data melalui aplikasi dapat bersifat masif, berlangsung terus menerus selama 24 jam, dapat menjangkau area yang luas dan mendekati waktu nyata.

Dengan algoritma tertentu maka kesukaan dan perilaku pengguna aplikasi sebagai calon pelanggan dapat dipilah secara cepat dan tepat. Satu hal lagi yang mungkin sulit dilakukan dengan metode riset pemasaran biasa adalah mengetahui secara persis lokasi dan pergerakan calon pelanggan dalam kesehariannya.

"Aplikasi transportasi daring maupun media sosial mampu dengan mudah memvisualisasikan pergerakan pelanggan sehingga komponen place dalam bauran pemasaran 4 P dapat didekati secara lebih pasti," kata Lim menjelaskan.

Di samping segala kelebihan model pengumpulan data pemasaran di atas, masih terdapat satu kelemahan mendasar yakni kurangnya transparansi dan ketertelusuran yang memengaruhi integritas data.

Data yang disajikan kepada korporasi sebagai pembeli data merupakan hasil kompilasi yang mana asal-muasalnya tidak dapat dipastikan.

"Beberapa kali kami menelusuri sendiri sumber data dari aplikasi belanja online yang ternyata lokasinya berasal dari tengah laut," kata Lim.

Secara terpisah, Teguh Kurniawan Harmanda, selaku Ketua Yayasan Ethereum Meetup Indonesia menyatakan, teknologi blockchain memungkinkan setiap informasi dapat ditelusuri asal-muasalnya karena sifatnya yang tidak dapat diubah secara sepihak.

"Blockchain melekatkan sifat kebendaan pada data digital sehingga pergerakannya dapat dicatat selayaknya sebuah transaksi yang disaksikan oleh banyak pihak," kata Teguh.

Dengan demikian, satu data pelanggan tidak dapat dijual berkali-kali kepada pembeli data tanpa mencatatnya pada buku besar. Pengguna aplikasi sebagai pemilik data dapat mengetahui berapa kali data yang ia ciptakan digunakan oleh pembeli data.

"Sementara itu, korporasi sebagai pembeli data akan dengan mudah menelusuri asal muasal data yang tersaji dari aplikasi meskipun mungkin sudah dalam bentuk kompilasi sekalipun," ujar dia.

Komentar

x