Find and Follow Us

Rabu, 21 Agustus 2019 | 04:06 WIB

Xiaomi Siap Bikin Perusahaan Baru Bernama Dayu

Senin, 8 April 2019 | 13:13 WIB
Xiaomi Siap Bikin Perusahaan Baru Bernama Dayu
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Beijing - Semakin serius menjajaki pasar Internet of Things (IoT), Xiaomi kabarnya bakal mendirikan anak perusahaan baru di bidang produksi chip.

Xiaomi berencana merestrukturisasi anak perusahaannya yang bergerak di bidang pembuatan chip, Pinecone, agar lebih sesuai dengan visi mereka.

Sebagian dari karyawan Pinecone akan dipisah dan membuat perusahaan baru bernama Dayu yang secara harfiah bisa diterjemahkan sebagai ikan besar.

Jika keduanya sama-sama perusahaan pembuat chip, lantas apa beda Dayu dan Pinecone?

Dayu ke depannya akan lebih fokus ke riset dan pengembangan chipset untuk solusi-solusi Internet of Things (IoT). Produk-produk IoT tersebut antara lain smart speaker, smart lamp, smart camera, dan sebagainya.

Sedangkan Pinecone tetap fokus mengerjakan chipset untuk dipakai di smartphone. Salah satu chip buatan Pinecone adalah chip Surge S1 yang dikenalkan pada 2017 lalu.

Nantinya, Xiaomi bakal memiliki 25 persen saham Dayu. Sementara sisa saham akan didistribusikan kepada pegawai, menjadi langkah yang dinilai memungkinkannya untuk menghimpun pendanaan secara mandiri.

Sejumlah firma investasi kabarnya pun telah berminat menanam investasi ke Dayu.

Bisnis IoT menjadi lahan pasar yang jadi incaran. Vendor China lainnya, Huawei, mengklaim tahun lalu chip IoT milik mereka, HiLink, telah menghubungkan 300 juta perangkat, termasuk speaker AI dan sistem kendaraan.

Pabrikan-pabrikan chip juga saat ini berlomba bakal membuat chip IoT yang hemat energi untuk mendukung platform IoT berbasis cloud.

Langkah-langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi gelombang 5G dan semakin banyaknya perangkat yang bakal saling terhubung.

Xiaomi sendiri awal tahun ini telah menetapkan dual strategi 'smartphone + AioT' sebagai fokus perusahaan. Revenue bisnis IoT Xiaomi sendiri pada 2018 lalu dilaporkan meningkat 86,9 persen.

Jumlah itu hampir dua kali lipat pertumbuhan bisnis smartphone per tahunnya yang sebesar 41,3 persen dalam periode yang sama.

Bisnis smartphone yang mengalami penurunan pengiriman 4,1 persen (laporan IDC) pada 2018 lalu, serta tren pelambatan pertumbuhan di China, juga menjadi pemacu vendor-vendor asal China melakukan diversifikasi bisnis.

Komentar

x