Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 12 Desember 2018 | 19:30 WIB

Google Dituduh Lacak Aktivitas Pengguna di Eropa

Selasa, 27 November 2018 | 20:20 WIB

Berita Terkait

Google Dituduh Lacak Aktivitas Pengguna di Eropa
(ist)

INILAHCOM, Oslo - Lembaga konsumen di sejumlah negara Eropa meminta regulator menindak Google karena dugaan melacak aktivitas jutaan pengguna mereka.

Hal ini bertentangan dengan peraturan mengenai perlindungan data yang berlaku di sejumlah negara tersebut.

Reuters melaporkan, kelompok konsumen di Belanda, Polandia, Republik Ceko, Yunani, Swedia, Norwegia, dan Slovenia mengajukan tuntutan ke masing-masing regulator perlindungan data nasional.

Masyarakat mengadu ke Organisasi Konsumen Eropa (BEUC), menuding Google menggunakan berbagai cara agar pengguna mengaktifkan pengaturan 'histori lokasi' dan 'aktivitas web dan aplikasi' yang terintegrasi dengan akun Google.

"Praktik sepihak ini membuat konsumen rugi mengenai penggunaan data mereka," kata grup konsumen di Eropa tersebut.

"Praktik ini tidak sesuai dengan Undang-Undang Perlindungan Data (GDPR) karena Google tidak memiliki latar yang valid dan sah untuk memproses data yang dimaksud. Khususnya, laporan menunjukkan bahwa persetujuan pengguna dalam kondisi tersebut tidak diberikan secara independen."

Menanggapi kasus tersebut, juru bicara Google menyatakan histori lokasi secara otomats atau default mati dan pengguna bisa mengaturnya sesuai keinginan.

"Histori lokasi secara default dimatikan, Anda bisa mengubah, menghapus atau menghentikannya kapan saja. Jika menyala, akan membantu untuk memperbaiki layanan seperti informasi lalu lintas," kata juru bicara Google.

"Jika (histori lokasi) dihentikan, kami jelas menyatakan, tergantung ponsel dan pengaturannya, bahwa mungkin kami masih mengumpulkan data dan menggunakan lokasi untuk memeprbaiki pengalaman menggunakan Google," imbuhnya.

GDPR mengizinkan konsumen atau pengguna untuk mengawasi data mereka. Berdasarkan undang-undang tersebut, perusahaan yang melanggar akan dikenakan denda hingga 4 persen dari pendapatan secara global. [tar]

Komentar

Embed Widget
x