Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 27 Maret 2019 | 10:19 WIB

Antrean Sopir Grab Beralih ke Go-Jek, Ada Apa?

Oleh : Ibnu Naufal | Sabtu, 17 November 2018 | 06:06 WIB

Berita Terkait

Antrean Sopir Grab Beralih ke Go-Jek, Ada Apa?
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Eksodus mitra driver ojek online Grab Indonesia ke Go-Jek sedang terjadi di beberapa kota. Termasuk di Bandung dan Jakarta.

Di Bandung, sedikitnya 500 mitra ojek online Grab migrasi ke Go-Jek dengan cara mendaftar secara serempak ke kantor aplikator karya anak bangsa cabang Bandung. Terutama terjadi pada Selasa, 13 November lalu.

Antrian para calon mitra Go-Jek yang hampir seluruhnya masih menggunakan almamater Grab itu mengular sejak sekitar pukul 06.00 WIB.

Saat dikonfirmasi, manajemen Go-Jek membenarkan terjadinya migrasi dari para mitra Grab di beberapa kota itu. Pihaknya juga membuka pintu bagi para mitra yang memenuhi kualifikasi dan persyaratan untuk bergabung.

VP Corporate Affairs Go-Jek, Michael Reza Say, merespon migrasi mitra kompetitornya tersebut.

"Pada dasarnya semangat kami adalah untuk membantu kesejahteraan sektor informal di Indonesia. Sebagai pelopor ride-hailing di Indonesia kami bangga dapat menjadi pilihan mitra driver untuk bersama terus melayani jutaan mitra Indonesia melalui teknologi," ujar Michael Reza, VP Corporate Affairs Go-Jek, di Jakarta, Jumat (16/11/2018).

Salah seorang mitra ojek online Grab, Iwan Siregar, yang ikut dalam antrian di Bandung menjelaskan beberapa alasan utama dia dan rekan-rekannya bermigrasi menjadi mitra Go-Jek. Salah satunya terkait aspek kesejahteraan.

"Peraturan di Grab itu setiap bulan berubah-ubah. Insentif nggak dikeluarkan mulai tanggal 6 November kemarin," dia mengungkapkan.

Meskipun tidak melulu mengejar insentif, kata Iwan, setidaknya hal itu sejauh ini menjadi pemacu semangat untuk menjalankan peran sebagai mitra, menarik order dari konsumen.

"Namanya driver nggak muluk-muluk cari nilai tambah. Jadi kalau misalnya ada lebihnya kita bisa nyimpen kan itu yang kita harapkan," akunya.

Sebaliknya jika uang yang dibawa pulang ternyata kemudian pas-pasan, menurutnya, terkadang ada rasa pilu.

"Bawa (uang) pas-pasan ke rumah kan repot," ucapnya.

Alasan lain adalah program yang mampu menyejahterakan para mitra. Grab tidak punya itu. Bahkan, kata Iwan, fasilitas asuransi pun belum pernah dia terima.

"Kalau di Go-Jek apa itu namanya (program) Swadaya ya? Itu kan nggak ada di Grab," keluhnya.

Iwan mengaku baru menyadari produk asing tidak selalu lebih baik dari produk lokal. Maka dia merasa berbangga akhirnya bisa bergabung dengan Go-Jek.

"Hitung-hitung ini sumbangsih saya untuk negara, karya Indonesia. Saya keluar dari perusahaan aplikasi asing," dia berbangga.

Di Jakarta, eksodus mitra Grab terjadi di kantor Go-Jek wilayah Kemang Timur, Jakarta Selatan, Jumat kemarin. Sama seperti di Bandung, para driver yang masih menggunakan jaket dan helm Grab itu juga mengantri sejak pagi.

Tidak kalah banyak jumlahnya dibanding dengan di Bandung, para mitra Grab itu siap berganti jaket dan helm. Menjadi mitra perusahaan aplikator Indonesia.

Selain di Bandung dan Jakarta, migrasi juga terjadi di kota lain seperti terjadi di Makassar, Sulawesi Selatan. Secara umum, alasan diungkapkan para mitra terkait aksi tersebut adalah berkaitan dengan kesejahteraan.

Komentar

x