Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 24 Oktober 2018 | 10:28 WIB

Kendala e-Sport Lokal Bersaing di Kancah Global

Oleh : Ibnu Naufal | Senin, 24 September 2018 | 16:16 WIB

Berita Terkait

Kendala e-Sport Lokal Bersaing di Kancah Global
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Industri olahraga elektronik atau e-sport sedang betumbuh pesat di dunia. Terutama di Asia yang terkenal sebagai gudang tim-tim garang turnamen e-sport taraf internasional. Meski Indonesia punya basis pemain yang besar, namun ranah e-sport di negara ini masih kurang profesional.

Channel Manager AMD International Sales and Service Ltd Anes Budiman membeberkan beberapa alasan.

Menurut dia, salah satu menjadi masalah e-sports masih belum berkembang disebabkan olahraga elektronik ini telat datang ke Indonesia.

"Sejak sekitar 10 tahun yang lalu, tahun 2000-an, e-sport sudah ramai di luar baru tiga tahun ini saja Indonesia mulai melirik," jelas Anes Budiman saat menjawab pertanyaan INILAHCOM.

Dia juga menyebut banyak pihak masih mencap bermain game itu hal negatif. Padahal game saat ini sudah menjadi industri besar, bisa menghasilkan banyak uang, dan bahkan dipertandingkan di pesta olahraga besar seperti Asian Games 2018 yang lalu.

"Di luar (negeri) banyak yang menjadi atlet e-sport dengan pendapatan besar. Jadi mereka lulus SMA langsung menjadi atlet e-sport. Tapi semuanya dikelola dengan profesional sampai buat karantina untuk latihan. Bahkan pola makannya juga dijaga layaknya seorang atlet," ujarnya.

Meski demikian, data dari situs e-sport internasional newzoo.com, Indonesia memiliki 43,7 juta pemain game yang menghabiskan US$880 juta (sekitar Rp11 miliar) untuk bermain game.

Angka total ini membuat Indonesa menduduki peringkat ke-16 negara dengan pendapatan dari game terbesar di dunia.

Sebesar 56 persen di antaranya merupakan gamer laki-laki yang menggunakan PC/ laptop, dengan rentang usia 10-50 tahun. Sementara 44 persen sisanya adalah gamer perempuan dengan usia 10-50 tahun.

Komentar

Embed Widget
x