Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 16 November 2018 | 15:01 WIB

Gelar Scenario Forum, Shell Kenalkan 'SKY'

Selasa, 14 Agustus 2018 | 14:30 WIB

Berita Terkait

Gelar Scenario Forum, Shell Kenalkan 'SKY'
(dok.Shell)

INILAHCOM, Jakarta - PT Shell Indonesia menggelar Shell Scenario Forum, sebuah forum yang memperkenalkan 'SKY' sebagai skenario terbaru Shell yang menggambarkan sebuah visi masa depan di mana masyarakat bersama-sama membantu mewujudkan terciptanya dunia bebas emisi di tahun 2070.

Shell Scenario Forum dibuka oleh Country Chairman/President Director PT Shell Indonesia Darwin Silalahi dan menghadirkan Menteri Koordinasi Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan untuk menyampaikan pidato sambutan, serta Chief Political Analyst, Shell Scenario Team-Royal Dutch Shell Dr Cho-Oon Khong sebagai pembicara utama.

"Shell Scenario Forum bertujuan untuk memperkaya pemikiran kritis para pemimpin dan pengambil keputusan dalam memahami segala peristiwa yang mungkin terjadi dan ketidakpastian sebagai upaya mencapai dunia rendah karbon melalui skenario SKY," kata Darwin Silalahi.

Shell telah menjadi pelopor dalam mengembangkan skenario yang digunakan untuk mengeksplorasi masa depan dan memperdalam pemikiran strategisnya selama hampir 50 tahun. Hal ini, menurut Darwin, memungkinkan dilakukannya sebuah diskusi terbuka tentang upaya, tantangan dan kesempatan yang dapat digunakan oleh masyarakat, pasar, dan pemerintah dalam mencapai sasaran Paris Agreement.

Dalam forum yang dihadiri oleh para pemangku kepentingan; pemerintah, mitra bisnis, konsumen, pemimpin media dan karyawan senior Shell, Darwin juga menegaskan kembali peran signifikan yang ingin dijalankan oleh Shell untuk membantu kemajuan pembangunan negara di bawah kampanye 'Shell untuk Indonesia'.

"Masa depan dengan net-zero emissions akan mungkin terjadi apabila kita dapat membangun pemahaman dan tindakan bersama antara sektor publik-swasta, dan berkolaborasi lintas sektor," tambahnya.

Dalam sambutannya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengatakan bahwa Pemerintah menyambut baik visi Shell melalui sebuah skenario yang dapat membantu dunia, termasuk Indonesia, dalam mencapai Paris Agreement untuk menahan peningkatan suhu rata-rata bumi di bawah 2 derajat Celsius.

"Indonesia memiliki komitmen dalam memenuhi Paris Agreement melalui berbagai upaya, antara lain penurunan emisi gas rumah kaca nasional, pengurangan emisi dari asap kebakaran hutan dan lahan, pengembangan energi terbarukan (EBT) dan inisiasi industri hijau. Melalui upaya yang dilakukan, dalam rentang waktu dua tahun, Indonesia berhasil mengurangi emisi sektor energi sebesar 46,31 juta ton, melampaui target 31 juta ton," ujar Luhut.

Selama lebih dari dua dekade, pemikiran Skenario Shell telah memasukkan isu perubahan iklim. Shell New Lens Scenario, 'Gunung (Mountains)' dan 'Lautan (Oceans)', mengeksplorasi dua cara pandang abad ke-21.

Keduanya mengambil isu-isu global yang mendesak seperti ketegangan politik, globalisasi, urbanisasi, dan aksi iklim, dan menggunakannya sebagai lensa untuk melihat bagaimana dunia bisa berkembang.

Akan tetapi hasil dari dua skenario tersebut menggambarkan pencapaian net-zero emission di akhir abad, artinya skenario tersebut gagal mencapai sasaran suhu Paris Agreement (untuk membatasi kenaikan suhu rata-rata global abad ini hingga di bawah 2 derajat Celcius dibandingkan tingkat di masa pra-industri).

Sementara itu, Chief Political Analyst, Shell Scenario Team Cho-Oon Khong mengatakan, skenario 'SKY' dibangun berdasarkan beberapa skenario Shell sebelumnya dan merupakan sebuah jalur yang memungkinkan secara teknologi, industri dan ekonomi mencapai tujuan-tujuan Paris Agreement.

Menurut dia, 'SKY' merupakan skenario yang paling diyakini oleh Shell untuk tercapainya emisi CO2 nol persen di tahun 2070.

"Mulai saat ini hingga tahun 2070, tingkat elektrifikasi energi akan mencapai lebih dari tiga kali lipat, dengan jumlah pembangkit listrik global mencapai hampir lima kali lipat dibandingkan pada saat ini. Elektrifikasi akan mencapai 50 persen dari total konsumsi energi di akhir tahun 2070," papar Khong,

Dia juga menambahkan bahwa 'SKY' pun memprediksi setengah dari total penjualan mobil global akan didominasi kendaraan listrik di awal 2030, dan ini akan terus berlanjut hingga tahun 2050 di mana semua mobil di dunia telah menggunakan energi listrik.

Di tahun yang sama (2050), beragam sumber energi baru juga akan tumbuh hingga 50 kali lipat dengan ketersediaan energi utama berasal dari energi terbarukan.

"Meskipun membawa berita gembira, skenario 'SKY' tidak dapat menjamin tercapainya tujuan Paris Agreement tanpa adanya sinergi antara masyarakat, pasar dan pemerintah. Skenario ini menunjukan bahwa berbagai perubahan penting akan dicapai melalui langkah yang berbeda di lokasi yang berbeda," ujar Khong mengakhiri.

Komentar

Embed Widget
x