Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 21 September 2018 | 09:25 WIB

Upah Sopir Go-Jek Lebih Tinggi dari UMP Jakarta

Oleh : Ibnu Naufal | Sabtu, 14 Juli 2018 | 10:10 WIB

Berita Terkait

Upah Sopir Go-Jek Lebih Tinggi dari UMP Jakarta
(ist)

INILAHCOM, Jakarta - Menjadi pengemudi ojek online memiliki daya pikat tersendiri. Hal ini terbukti dari banyaknya warga yang alih profesi atau sekadar menjadikan ojek online sebagai sumber pendapatan tambahan.

Tiga tahun belakangan perkembangan transportasi online begitu pesat. Pertumbuhan jumlah driver aplikasi, baik ojek ataupun taksi online pun juga semakin membengkak, lantaran pendapatan dari transportasi berbasis online cukup menggiurkan.

Seperti halnya pengemudi mitra Go-Jek Edi Suryadi tak menyangka penghasilan sebagai tukang ojek kian berlipat ganda setelah bergabung sebagai mitra pengemudi di Go-Jek. Sebelumnya, Edi sehari-hari hanya mengandalkan rezeki dari penumpang ketika dia mangkal di Pasar Klender, Jakarta Timur.

"Saya bergabung ke Go-Jek di tahun 2014. Kini, penghasilan saya di Go-Jek lebih sejahtera daripada menjadi opang (ojek pangkalan). Setiap hari, saya rata-rata mendapat penghasilan Rp 200 ribu dari hasil narik Go-Jek," ujar Edi saat dijumpai di Pasar Mitra Go-Jek di Gelora Bung Karno, Jakarta, baru baru ini.

Sesekali, Edi bisa membawa pulang Rp 400 ribu per hari dari jasanya sebagai tukang ojek di Go-Jek ini. Ayah dari 2 anak ini menikmati pekerjaannya di Go-Jek.

Dia mengatakan bisa mengatur jadwal kerja dan mengantar kedua anaknya ke sekolah. Pria kelahiran 36 tahun silam ini memperoleh rata-rata pendapatan sekitar Rp 6 juta/bulan.

Tentu saja, penghasilan itu lebih tinggi dari Upah Minimum Regional di Jakarta yang berkisar Rp 3,6 juta/bulan. Edi yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarganya berkeinginan untuk menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi. Harapan itu tidaklah mimpi di siang bolong.

"Saya bisa menyisakan pendapatan untuk ditabung buat pendidikan anak-anak dan membahagiakan isteri," ungkapnya.

Setali tiga uang, Ellon yang menjadi mitra pengemudi Go-Jek sejak sejak Januari 2016 ingin menggapai impian itu. Ellon memiliki 2 puteri yang saat ini bersekolah di SMP dan SD. Ellon yang berdomisili di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan ini mendapatkan motivasi dari sang isteri.

"Rata-rata saya melayani 10 trip dalam sehari," ujar pria kelahiran Pangandaran, Jawa Barat ini. Ellon yang berusia 50 tahun beralih sebagai mitra pengemudi Go-Jek setelah menghitung-hitung penghasilan dari Go-Jek lebih tinggi daripada pekerjaanya di perusahaan. "Saya dulu kerja di salah satu perusahaan swasta, saya nyambi Go-Jek di kala itu.

Di awal tahun 2017 samapai saat ini saya full time di Go-Jek," tukas Ellon yang diganjar penghargaan dari Go-Jek di kategori Pendukung Inklusi Keuangan Indonesia. Ia menyabet penghasilan sebesar Rp 200 ribu-Rp 350 ribu/hari. Penghasilannya disisihkan untuk membayar premi asuransi di Allianz untuk anak dan isterinya. "Saya juga ikut program haji di Go-Jek, biaya dipotong Rp 300 ribu dari saldo saya untuk disimpan di Bank Permata Syariah.

Kehidupan Ellon berangsur-angsur menjadi lebih sejahtera. Hal yang sama dialami Heru Widyanto (39 tahun), penyandang tuna netra yang bergabung di Go-Massage. "Setelah bergabung di Go-Massage di tahun 2015, penghasilan saya semakin meningkat. Saya bisa membiayai anak hingg lulus kuliah D3," ujar Heru. Nanik, isteri Heru, menimpali penghasilan suaminya ini lebih tinggi dibandingkan ketika Unang hanya membuka jasa memijit di rumahnya.

"Sekarang sudah bisa menabung," ucap Nanik yang sungkan menyebutkan penghasilan suaminya di Go-Massage ini. Unang mengamini Nanik. "Dulu gak bisa kemana-mana, sekarang bisa ngajak jalan-jalan isteri dan anak-anak ke mall," imbuh Heru seraya melemparkan senyum.

Senyum Heru dan mitra Go-Jek lainnya inilah yang kerapkali menghiasi ruang publik. Senyum mereka itu juga dinantikan oleh anggota keluarga mereka yang menanti di rumah. "Alhamdulilah, rezeki dari Allah memang tidak tertukar," pungkas Nanik

Komentar

x