Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 20 September 2018 | 19:59 WIB

Facebook Semakin Tak Digemari Para Pencari Berita

Selasa, 19 Juni 2018 | 17:17 WIB

Berita Terkait

Facebook Semakin Tak Digemari Para Pencari Berita
(ist)

INILAHCOM, London - Semakin sedikit orang menggunakan Facebook untuk menemukan atau membicarakan berita sementara aplikasi sosial seperti WhatsApp semakin digemari, demikian ungkap sebuah penelitian terbaru.

Digital News Report melaporkan bahwa penurunan pemakai yang mengakses berita di Facebook mencerminkan kekhawatiran akan masalah privasi dan buruknya perdebatan yang muncul di media sosial.

Perubahan pada algoritma Facebook juga ikut mempengaruhi karena raksasa media sosial tersebut tak lagi memprioritaskan berita pada feed pengguna.

Penelitian untuk mengkaji bagaimana orang mengakses berita di dunia ini dilakukan oleh Reuters Institute for the Study of Journalism di Universitas Oxford Inggris, dengan didasarkan pada survei online YouGov terhadap 74.000 orang di 37 negara.

Indikasinya adalah generasi muda lebih memakai WhatsApp, Instagram, dan Snapchat untuk mendapatkan berita, terutama karena semakin meningkatnya keinginan untuk membahas berita-berita secara lebih rahasia.

Jumlah responden yang mengakses berita lewat WhatsApp berlipat tiga kali dalam empat tahun menjadi 15 persen, dengan peningkatan besar terjadi di Malaysia dan Turki, negara dengan risiko berbahaya jika warganya mengungkapkan pandangan secara terbuka.

Penulis utama laporan, Nic Newman, mengatakan bahwa tim peneliti menyaksikan banyak orang mengalihkan perhatian ke ruang yang lebih pribadi seperti aplikasi pesan untuk berbagi dan membicarakan berita.

"Orang lebih mudah mengendalikan cara dan tempat mereka untuk berhubungan, tetapi hal ini kemungkinan juga membuat perdebatan masyarakat dan tentang berita menjadi semakin terpecah-belah dan tidak jelas," ujarnya seperti dilansir BBC.

Penggunaan Facebook terkait berita memang menurun di beberapa negara, seperti di AS, misalnya, turun sampai 9 persen dibandingkan 2017.

Dan responden yang menjadi kelompok utama penelitian mengisyaratkan bahwa penyebabnya adalah cara orang dalam memperdebatkan berbagai masalah di platform itu.

"Saya benar-benar menarik diri dari Facebook sejak keadaan politik berubah dalam beberapa tahun terakhir karena ternyata semua orang memiliki pandangannya masing-masing," kata seorang warga Inggris.

Keputusan Facebook untuk mengubah algoritma --yang lebih mendorong posting para teman dibandingkan berita dari luar-- juga dipandang berperan dalam penurunan berita di platfrom ini, meskipun kebanyakan survei dilakukan sebelum perubahan tersebut diterapkan.

Masalah keyakinan diri

Kekhawatiran akan berita palsu tetap hadir. Sebagian besar responden (54 persen) mengatakan mereka mencemaskannya, dengan proporsi tertinggi di negara-negara seperti AS, Brasil, dan Spanyol, yang merupakan tempat-tempat dengan perbedaan pandangan politik yang tajam dan penggunaan media sosial yang tinggi.

Kepercayaan terhadap berita secara umum berada pada tingkat 44 persen, tetapi hanya 34 persen dari responden yang mengatakan mempercayai berita yang mereka temukan lewat sistem pencarian internet dan kurang dari seperempat (24 persen) meyakini yang ada di media sosial.

Tiga perempatnya percaya penerbit dan platform online yang dituding bersalah, yang menjadi petunjuk bahwa banyak orang melihat laporan yang berpihak atau tidak akurat sebagai berita palsu, selain tentunya berita-berita yang memang palsu atau hoax.

"Sering dipakainya istilah 'berita palsu' yang berbahaya dan menyesatkan, sejalan dengan krisis kepercayaan yang sudah lama berlangsung, ketika sebagian besar anggota masyarakat merasa tidak mempercayai berita, terutama dari negara-negara yang politiknya sangat mengkutub, dan di tempat dengan media yang mudah dipengaruhi oleh ekonomi dan politik yang tidak diinginkan," kata Prof Rasmus Kleis Nielsen, salah seorang penulis laporan.

Banyak penerbit berita mempertimbangkan untuk pindah ke media berbayar namun dengan alasan tertentu.

Negara-negara Skandinavia, misalnya, menunjukkan lebih banyak orang yang bersedia untuk membayar berita tapi mungkin disebabkan sedikitnya jumlah penerbit berita, yang sebagian besar menggunakan sistem membatasi akses ke berita yang diterbitkan.

Di negara-negara lain terjadi pertumbuhan langganan yang rendah, meskipun di AS berita tentang Trump membuat orang tetap berlangganan layanan digital agar dapat mengikuti turun-naiknya politik Presiden Donald Trump.

Kebanyakan orang yang ikut penelitian ini jajak tidak menyadari masalah keuangan yang oleh dialami bisnis pemberitaaan namun semakin banyak orang yang bersedia untuk membayar sebagai langganan atau sekedar menyumbang jika memang mereka diberitahu.

"Kesimpulannya jelas, ada orang yang memandang layak untuk membayar demi mendapatkan sejumlah berita tertentu, tetapi kebanyakan memang tidak," kata Prof Nielsen.

"Tantangan bagi para penerbit sekarang adalah memastikan jurnalisme yang dihasilkan memang berbeda, relevan, bernilai, dan mempromosikannya secara efektif untuk meyakinkan orang agar memberikan sumbangan atau berlangganan," imbuhnya.


Komentar

x