Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 25 September 2018 | 04:52 WIB

Gara-gara Telegram, Rusia Blokir Google dan Amazon

Kamis, 19 April 2018 | 17:47 WIB

Berita Terkait

Gara-gara Telegram, Rusia Blokir Google dan Amazon
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Moskow - Lembaga nasional Rusia yang bertanggung jawab dalam sektor komunikasi dan media massa, Roskomnadzor, memblokir alamat Internet Protocol (IP) yang dimiliki oleh Google dan Amazon. Mereka menyatakan bahwa alamat itu digunakan oleh Telegram setelah aplikasi berbagi pesan tersebut diblokir pekan ini.

Roskomnadzor mulai memblokir Telegram, layanan perpesanan yang populer di Rusia, pada Senin lalu (16/4/2018) karena perusahaan tersebut menolak mematuhi perintah pengadilan untuk memberi izin lembaga keamanan negara untuk mengakses pesan-pesan pengguna Telegram yang terlindungi enkripsi.

Kepala Roskomnadzor Alexander Zharov menyatakan bahwa lembaga yang ia pimpin telah memblokir 18 sub-jaringan dan sejumlah besar alamat IP milik Google dan Amazon, menurut laporan kantor berita Interfax.

"Kami sudah memberi tahu kedua perusahaan bahwa sejumlah alamat IP yang berlokasi di dalam komputasi awan (cloud) dua layanan ini sudah diblokir berdasarkan keputusan pengadilan (untuk memblokir Telegram)," kata Zharov.

Pemblokiran alamat IP tersebut membuat para pengguna Internet di Rusia tidak bisa mengakses Telegram dan layanan lain yang mengirimkan konten melalui server Google dan Amazon.

Zharov mengatakan kepada Interfax bahwa Roskomnadzor berharap mendapat respons 'bermakna secara hukum' dari Google dan Amazon berkenaan dengan penerapan keputusan tersebut hingga Rabu waktu setempat.

Meski demikian, baik Google maupun Amazon belum merespons permintaan Pemerintah Rusia tersebut.

Sementara itu, CEO Telegram Pavel Durov melalui kanal di aplikasi pesan tersebut menyatakan pelarangan Rusia tidak menimbulkan penurunan drastis penggunanya karena konsumen mengakalinya dengan menggunakan VPN dan proxy untuk mengakses layanan tersebut.

Telegram banyak digunakan di negara-negara bekas Uni Soviet dan Timur Tengah. Durov mengatakan pada Selasa (17/4/2018) bahwa pengguna Rusia hanya 7 persen dari total pengguna Telegram.

Di Rusia, Telegram populer di kalangan jurnalis dan oposisi politik. Namun, Kremlin juga menggunakan Telegram untuk berkomunikasi dengan wartawan dan mengatur jumpa pers reguler dengan juru bicara Presiden Vladimir Putin, demikian menurut siaran kantor berita Reuters.

Komentar

x