Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 27 April 2018 | 11:48 WIB
 

Dalam Sidang 5 Jam

Mark Zuckerberg Dicecar Anggota Kongres AS

Oleh : - | Rabu, 11 April 2018 | 19:20 WIB
Mark Zuckerberg Dicecar Anggota Kongres AS
(ist)

INILAHCOM, Washington DC - CEO Facebook Mark Zuckerberg dicecar dengan berbagai pertanyaan dalam sidang Kongres AS terkait skandal kebocoran data 87 juta pengguna Facebook ke Cambridge Analytica serta bagaimana perusahaan media sosial itu menjalankan bisnis mereka.

Zuckerberg yang juga merupakan pendiri Facebook itu harus menjawab pertanyaan terperinci dari 44 senator selama lima jam dalam sidang yang berlangsung di Capitol Hill, Washington DC, tersebut.

"Kami tidak menggunakan pandangan yang cukup luas tanggung jawab kami, dan itu adalah sebuah kesalahan besar. Itu juga kesalahan saya, dan saya meminta maaf," kata Zuckerberg pada pembukaan pernyataannya.

Jaringan media sosial terbesar dunia itu disebut gagal melindungi puluhan juta data penggunanya yang digunakan untuk membantu Donald Trump memenangi pemilihan presiden 2016.

"Yang paling penting saat ini menurut saya adalah memastikan bahwa tidak akan ada pihak yang ikut campur dalam pemilihan 2018 di seluruh dunia," ujarnya menjawab pertanyaan dari Senator Tom Udall, seperti dikutip dari The Guardian.

Beberapa topik yang mengemuka dalam dengar pendapat ini, termasuk isu pemilihan presiden 2016. Zuckerberg mengonfirmasi bahwa karyawannya juga telah dimintai keterangan dari Robert Muller yang menyelidiki kasus intervensi Rusia dalam Pilpres AS 2016. "Saya tahu bahwa kami bekerja sama dengan mereka," ujarnya.

Selain itu, ia ditanyakan mengenai monopoli Facebook dalam industri penyedia layanan media sosial oleh senator Lindsey Graham. "Bagi saya tidak terasa seperti itu," jawab Zuckerberg. Hal ini merujuk pada rencana perlunya aturan untuk mengatur di industri ini.

"Dalam posisi saya tentunya tidak diperlukan aturan semacam itu," katanya.

Saat ditanya lagi, apakah Facebook akan mematuhi jika nanti memang akan ada regulasi soal ini, Zuckerberg menjawab, "Bila regulasinya benar, ya kami patuhi."

Senator Graham menegaskan sekali lagi, "Apakah Anda mau bekerjasama dengan kami?"

"Tentu saja," jawab Zuckerberg.

Sebelumnya, John Thune, Ketua Komite Perdagangan, Ilmu Pengetahuan dan Transportasi Senat AS membuka sidang itu dengan nada keras.

LA Times melaporkan Zuckerberg menjawab pertanyaan-pertanyaan para senator dengan percaya diri dan jarang terbata-bata, serta menilai Kongres tidak benar-benar siap untuk menggali informasi dari media sosial sekelas Facebook.

Saat akhirnya para pembuat kebijakan bisa menghadirkan Zuckerberg untuk menjawab pertanyaan mereka di bawah sumpah mengenai peran Facebook dalam Pilpres AS 2016 dan kelonggaran perlindungan privasi perusahaan itu, mereka kesulitan menyampaikan dengan jelas mengenai perubahan seperti apa yang sebenarnya mereka inginkan dari perusahaan itu, menurut siaran LA Times.

Beberapa jam sebelum sidang berlangsung, orang-orang menunggu dalam antrean di dalam Gedung Kantor Senat Hart di sepanjang ruang sidang di lorong. Beberapa di antara mereka membawa kursi lipat sementara lainnya berdiri atau duduk di lantai.

Di luar gedung Kongres, kelompok pemrotes dari Avaaz menjajarkan 100 guntingan gambar Zuckerberg sebesar badannya, yang mengenakan kaos bertuliskan 'Fix Facebook'.

Zuckerberg, yang mendirikan Facebook dari kamar asramanya di Universitas Harvard pada 2004, sedang berjuang untuk membuktikan kepada para pengecamnya bahwa ia adalah orang yang tepat untuk terus memimpin perusahaan, yang telah berkembang menjadi salah satu yang terbesar di dunia.

Facebook menghadapi peningkatan krisis kepercayaan di antara para penggunanya, pemasang iklan, karyawan serta penanam modal setelah mengakui bahwa data pribadi 87 juta orang, yang sebagian besar tinggal di Amerika Serikat, dipanen oleh laman Cambridge Analytica.

Cambridge Analytica adalah perusahaan konsultan politik, yang salah satu kliennya adalah tim kampanye pemilihan Presiden AS Donald Trump.

Pada Jumat pekan lalu, Zuckerberg menyatakan dukungan terhadap usulan undang-undang untuk mewajibkan laman-laman media sosial mengungkapkan identitas para pembeli ruang iklan kampanye politik dalam jaringan mereka.

Komentar

 
Embed Widget

x