Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 20 September 2018 | 02:23 WIB

Google Rayakan Ultah Bapak Perfilman Indonesia

Selasa, 20 Maret 2018 | 07:07 WIB

Berita Terkait

Google Rayakan Ultah Bapak Perfilman Indonesia
(Google)

TOKOH perfilman Indonesia, Usmar Ismail, menjadi tema Google Doodle di hari ini, Selasa, 20 Maret 2018. Siapakah dia?

Saat membuka laman utama pencarian Google hari ini, Anda akan langsung disambut tampilan doodle dengan ilustrasi vintage seorang pria berkacamata tengah memegang sebuah kamera perekam. Dia adalah Usmar Ismail, sosok yang bisa dibilang paling berpengaruh di industri film Indonesia.

Usmar Ismail dilahirkan di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 20 Maret 1921. Tepat pada hari ini (jika masih hidup), pria berdarah Minang itu berulang tahun yang ke-97, dan secara khusus Google turut merayakannya melalui tampilan doodle spesial.

Dijuluki Bapak perfilman Nasional, sepanjang karirnya antara tahun 1950-1970, Usmar Ismail membuat 33 film layar lebar, yang terdiri dari 13 film drama, sembilan film komedi atau satire, tujuh film aksi, dan empat film musical/entertainment.

Usmar Ismail dikenal sebagai seniman serba bisa yang punya nama besar pada zamannya. Dia adalah penyair, dramawan, wartawan, sutradara, dan pembuat film terkemuka Indonesia. Sebagai sosok pejuang multidimensional yang penuh warna, Usmar Ismail mewariskan karya-karya dalam bidang seni dan budaya yang masih bisa dinikmati hingga saat ini.

Karena dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang taat beribadah, Usmar Ismail sudah pandai mengaji pada usia tujuh tahun. Setamat HIS dan Tawalib di Batusangkar, dia melanjutkan sekolah ke MULO di Padang Panjang.

Setelah tamat dari MULO, pemilik nama lengkap Usmar Ismail Sutan Mangkuto Ameh ini merantau ke Pulau Jawa bersama sahabatnya Rosihan Anwar. Di Yogyakarta, dia melanjutkan ke AMS-A (Algemene Middlebare School) II jurusan Klasik Timur.

Masa sekolah Usmar Ismail di Yogyakarta kemudian terganggu oleh masuknya balatentara Jepang ke Indonesia. Dengan mengantongi ijazah darurat, dia pergi ke Jakarta dan tinggal dengan kakaknya, Abu Hanifah.

Usmar Ismail kemudian meniti karir sebagai pemain sandiwara radio dengan honor Rp5. Bakatnya mulai berkembang setelah bekerja di Keimin Bunka Sidosho (Kantor Besar Pusat Kebudayaan Jepang) bersama Armijn Pane dan para budayawan lainnya. Mereka kemudian bekerja sama untuk mementaskan beberapa drama.

Selain aktif di panggung sandiwara, anak kedua dari enam bersaudara ini juga piawai menulis lirik untuk beberapa lagu yang kemudian digubah oleh Cornel Simandjuntak. Salah satu karya Usmar yang digubah musisi terkenal itu adalah himne FFI.

Bakat seni Usmar Ismail memang telah terlihat sejak usianya masih belia. Awalnya ia gemar menulis sajak dan cerpen. Kemudian berlanjut dengan menulis naskah drama dan skenario film.

Sebagai sutradara, Usmar Ismail juga terkenal tajam dalam memilih bakat para pemainnya. Kebanyakan bintang yang diorbitkannya langsung melejit setelah tampil dalam film besutannya

Pada tahun 1943, Usmar bersama sang kakak Abu Hanifah (El Hakim), Rosihan Anwar, Cornel Simanjuntak, dan HB Jassin, mendirikan kelompok sandiwara Maya. Mereka mementaskan sandiwara berdasarkan naskah sastra drama dan teknik teater Barat. Hal ini dipandang sebagai tonggak baru bagi munculnya teater modern di Indonesia.

Drama terkenal yang pernah dipentaskan kelompok sandiwara yang dianggap sebagai pelopor lahirnya teater Koma ini adalah Taufan di Atas Asia karya El-Hakim. Sedangkan drama terkenal yang ditulis Usmar Ismail adalah Mutiara dari Nusa Laut (1943), Mekar Melati (1945), dan Liburan Seniman (1945). Pada tahun 1950, kumpulan naskah-naskah tersebut kemudian diterbitkan dengan judul Sedih dan Gembira.

Kemampuan Usmar Ismail rupanya tak hanya sebatas di bidang seni. Sesudah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, dia memasuki dinas militer sekaligus aktif di dunia jurnalistik di Jakarta. Dia juga sempat mendirikan surat kabar Rakyat bersama dua rekannya yakni Syamsuddin Sutan Makmur dan Rinto Alwi.

Saat pemerintahan dipusatkan di Yogyakarta, Usmar Ismail ikut hijrah bersama Pemerintah Republik Indonesia yang waktu itu berusia sangat masih muda. Di Kota Gudeg itu, dia melanjutkan karirnya sebagai anggota TNI berpangkat mayor hingga tahun 1949. Usmar Ismail juga kembali melanjutkan kiprahnya sebagai wartawan dengan mendirikan sekaligus memimpin harian Patriot dan bulanan Arena di Yogyakarta.

Di sela-sela menjalankan tugas kemiliteran dan profesinya sebagai jurnalis, dia masih sempat berkecimpung dalam berbagai organisasi diantaranya Badan Permusyawaratan Kebudayaan Indonesia dan Serikat Artis Sandiwara. Dia pun kerap dipercaya untuk menempati posisi penting dalam struktur organisasi yang digelutinya, seperti ditunjuk sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada tahun 1947.

Saat menjalankan tugas sebagai wartawan, Usmar Ismail pernah dijebloskan ke dalam penjara oleh Belanda dengan tuduhan melakukan subversi. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1948 saat dia bekerja sebagai wartawan politik di kantor berita Antara. Ketika itu, dia datang ke Jakarta untuk meliput perundingan Belanda-RI.

Setahun kemudian setelah keluar dari penjara Cipinang, barulah Usmar Ismail mulai merintis karirnya di dunia perfilman. Anjar Asmara menjadi orang pertama yang menawarinya menjadi asisten sutradara dalam pembuatan film Gadis Desa.

Karena debutnya dirasa cukup memuaskan, Usmar Ismail kembali mendapat kepercayaan untuk ikut ambil bagian dalam penggarapan sederet judul lain seperti Harta Karun, yang kemudian disusul Citra, sebuah film yang diangkat dari naskah drama yang ditulisnya di zaman Jepang. Skenario film tersebut kemudian diterbitkan dalam bentuk buku disertai kata pengantar ke dunia pembuatan film tahun 1950.

Berbekal pengalaman menangani film-film itu, Usmar Ismail mulai tergerak untuk memberikan sesuatu pada bangsanya, terutama di bidang kesenian. Didorong semangat kebangsaan, dia menggandeng teman-teman sesama seniman untuk mendirikan NV Perfini (Persatuan Film Nasional Indonesia) tahun 1950.

Pendirian perusahaan tersebut bertujuan membuat film Indonesia yang bermutu. Meskipun di masa itu, fasilitas dan sarana untuk membuat film masih sangat terbatas, namun tidak menghalangi niat untuk menghasilkan film yang tak kalah berkualitas dengan buatan bangsa asing.

Pada 30 Maret 1950, Usmar dkk memproduksi film pertamanya yang berjudul Darah dan Doa. Dalam sejarah film Indonesia, film tersebut tercatat sebagai film Indonesia pertama yang keseluruhan penggarapan dan modalnya murni dari orang-orang pribumi. Sebelumnya di tahun 1926, memang ada sebuah film berjudul Lutung Kasarung yang dianggap sebagai film pertama di Indonesia, akan tetapi digarap oleh orang Belanda.

Film yang skenarionya ditulis Usmar Ismail berdasarkan cerita pendek Sitor Situmorang itu, berlatar long march Siliwangi dari Yogyakarta ke Jawa Barat pada 1948, bercerita tentang kisah sedih Sudarto, seorang guru yang ikut revolusi fisik dengan menjadi kapten Angkatan Darat.

Dibumbui dengan kisah romantis, Sudarto merasakan perjuangan batin di dalam peristiwa Madiun karena harus menumpas teman-temannya yang terlibat pemberontakan PKI. Setelah sempat ditangkap dan dianiaya Belanda, ketika akan menyambut kedatangan Bung Karno di Jakarta, Sudarto mati ditembak oleh temannya yang membalas dendam atas peristiwa Madiun.

"Saya tertarik kepada kisah Sudarto karena menceritakan secara jujur kisah manusia dengan tidak jatuh menjadi film propaganda yang murah," ujar Usmar Ismail.

Semula Darah dan Doa akan menggunakan judul Long March, dan direncanakan akan dikirim ke Festival Film Internasional di Cannes, Prancis. Sayang hanya sebatas rencana, sebab penggarapannya hampir terhambat akibat menyusutnya nilai uang setelah pemerintah waktu itu melakukan pemotongan nilai uang.

Modal Rp30.000 untuk shooting film tersebut tidak mencukupi karena nilainya turun drastis jadi separuhnya. Agar tidak rugi total, Perfini mengadakan kerja sama dengan Spektra Exchange, sehingga film Darah dan Doa bisa diselesaikan seluruhnya. Sang sutradara, Usmar Ismail, juga sempat menghadapi kenyataan pahit ketika film Darah dan Doa dilarang beredar di beberapa daerah, termasuk di Jakarta.

Terlepas dari beragam masalah itu, lewat film Darah dan Doa, Usmar Ismail telah menunjukkan bahwa orang-orang pribumi pun mampu berprestasi, menjadi pengusaha film, mengurus manajemen produksi, menjadi penata kamera, menjadi editor, atau dengan kata lain, seluruh film tersebut dikerjakan oleh pribumi.

Demi semakin menunjukkan eksistensinya, ayah lima anak ini menelurkan dua film sekaligus, yakni Enam Djam di Jogja dan Dosa Tak Berampuni di tahun 1951.

Pada tahun 1952, Usmar Ismail mendapat beasiswa dari Rockfeller Foundation untuk mendalami sinematografi di Universitas California Los Angeles, AS. Setahun kemudian, dia pulang ke Tanah Air setelah berhasil menyabet gelar Bachelor of Arts.

Setibanya di Tanah Air, Usmar Ismail kembali harus menghadapi keadaan yang kurang menguntungkan. Ketika itu, tekanan ekonomi pada film nasional dirasa sangat berat, sementara pemerintah belum memberikan uluran tangan yang berarti.

Dia pun mencari cara agar bisa terus berkarya, salah satunya adalah dengan mengadakan kompromi dengan selera masyarakat. Meski demikian, ia masih mampu menghasilkan film-film yang bermutu.

Di antaranya film berjudul Krisis yang sampai empat pekan bertengger di bioskop kelas atas, serta Harimau Campa dan Lewat Tengah Malam yang mendapat Piala Citra. Film Tamu Agung yang diproduksi tahun 1956, mendapat penghargaan film komedi Terbaik Festival Film Asia (FFA) di Hongkong. Ditambah pula beberapa film komersial seperti Tiga Dara (1956), Delapan Penjuru Angin (1957), dan Asmara Dara (1958).

Karya-karya filmnya merupakan gebrakan revolusioner dibanding film Indonesia sebelumnya yang kebanyakan hanya menonjolkan sisi komersial semata. Sebagai sutradara, Usmar Ismail juga terkenal tajam dalam memilih bakat para pemainnya. Kebanyakan bintang yang diorbitkannya langsung melejit setelah tampil dalam film besutannya.

Mereka yang beruntung merasakan tangan dingin Usmar di antaranya Raden Ismail, Rendra Karno, Fifi Young, Bambang Hermanto, AN Alcaff, Mieke Wijaya, Chitra Dewi, Indriati Iskak, Suzanna, Widyawati, dan yang terakhir Lenny Marlina melalui film Ananda. Sedangkan nama-nama seperti Misbach Yusa Biran, D. Djajakusuma, Sumardjono, dan Wahyu Sihombing merupakan sineas didikan Usmar Ismail.

Dia menyadari, sehebat apapun dirinya, regenerasi mutlak diperlukan demi kelangsungan industri perfilman nasional. Untuk itu, dia melakukan pembinaan tenaga muda di bidang teater dan film bersama Asrul Sani dan beberapa orang lainnya dengan mendirikan Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) pada tahun 1955.

ATNI berhasil menghasilkan aktor, sutradara, dan sineas ternama seperti Teguh Karya, Tatiek Malijati, Wahyu Sihombing, Pietradjaja Burnama, dan Galeb Husin.

Upaya lain yang dia lakukan demi kemajuan film Indonesia adalah mendirikan Persatuan Produser Film Indonesia (PPFI) bersama Djamaluddin Malik, ayah dari pedangdut Camelia Malik.

Latar belakang didirikannya organisasi ini berawal dari kesadarannya akan kesulitan yang dialami para produser film dalam menghadapi persaingan film impor. Atas dedikasinya, Presiden Soekarno menganugerahkan Piagam Wijayakusuma pada tahun 1962. Tujuh tahun kemudian, ia menerima Anugerah Seni dari Pemerintah Indonesia.

Meski nama besarnya telah berkibar di jagad perfilman nasional, hal itu tak menghalanginya untuk berkiprah di luar dunia film. Apalagi dia ikut terdorong oleh situasi saat itu di mana tidak berpolitik dianggap suatu dosa sejarah. Untuk menghindari 'dosa' itu, Usmar bergabung dengan Partai Nahdlatul Ulama, dan ditunjuk menjadi ketua Lembaga Seniman Budayawan Muslim Indonesia (Lesbumi), organisasi kebudayaan NU, serta menjadi anggota DPR-GR periode 1966-1969.

Pada 31 Desember 1970, Usmar Ismail pulang dari Italia untuk mengurus kopi film Adventure in Bali yang merupakan kerja sama Perfini dan Italia. Belakangan, peredaran di Indonesia tidak dikirim. Padahal dia sedang berjuang untuk mempertahankan Perfini, meskipun untuk menggaji karyawan harus dengan melego peralatan studio.

Di tengah rasa kecewanya pada rekanan Italianya, setiba di Indonesia, dia harus merumahkan 160 karyawannya di PT Ria Sari Show & Restaurant Management di Miraca Sky Club karena bisnis yang dia bangun sejak 1967 itu dilikuidasi oleh Sarinah.

"Baru pertama kali ini dalam sejarah hidup saya harus berpisah dengan karyawan. Ini sangat berat bagi saya," kata Usmar, dengan nada terbata-bata seperti dikutip dari situs lsf.go.id.

Malam harinya, dia masih sempat menyelesaikan dubbing film Ananda di studio Perfini. Setelah itu, menjelang pergantian tahun, seperti biasa Usmar Ismail mengajak keluarga dan sahabat-sahabatnya ke Miraca Sky Club.

Sebetulnya semua orang film diundang bermalam tahun baru di rumah aktor Turino Junaedy, tetapi karena kali itu Usmar sekaligus mengadakan perpisahan dengan karyawan, dia mengatakan akan menyusul.

Tidak biasanya, malam itu Usmar Ismail mengajak semua bawahannya untuk berfoto bersama. Kemudian tepat pukul 00.00, dia memeluk satu per satu istri kolega dan bawahannya untuk mengucapkan selamat tahun baru sekaligus kata-kata perpisahan. Dia juga menghendaki sahabat-sahabatnya untuk tetap duduk di dekatnya. Yang dianggap paling aneh, Usmar Ismail yang ketika muda pernah belajar dansa, malam itu bersiul sendiri.

Pada 1 Januari 1971 pukul 17.00 WIB, terdengar kabar bahwa Usmar Ismail tak sadarkan diri akibat terserang stroke, lalu wafat pada 2 Januari pukul 05.20 WIB. Atas permintaan keluarga, jenazah Usmar Ismail dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat. Karangan-karangan bunga menutupi makamnya, termasuk dari Presiden Soeharto, yang menyebut Usmar sebagai 'Sutradara Indonesia yang sesungguhnya'.

Industri perfilman Tanah Air bisa seperti sekarang tak terlepas dari jasa-jasanya. Perjuangannya menancapkan fondasi dunia perfilman nasional seakan tak mengenal lelah. Karena kontribusinya yang begitu besar, Usmar Ismail dianggap sebagai Bapak Perfilman Nasional dan untuk mengenang sosoknya, nama suami dari Sonia Hermine Sanawiuga ini juga diabadikan sebagai nama pusat perfilman nasional di Jakarta.

Usmar Ismail juga merupakan sosok penting di balik ditetapkannya 30 Maret sebagai Hari Film Nasional. Tanggal tersebut merujuk hari pertama syuting film Darah dan Doa (Long March), film pertama yang digarapnya sekaligus film pertama karya anak negeri.

Sebelumnya telah terjadi perbedaan pendapat sebab peristiwa bersejarah 30 Maret hanya diakui oleh kalangan orang film swasta, sedangkan kalangan pemerintah masih memilih 6 Oktober sebagaimana usulan tokoh perfilman lainnya yakni RM Soetarto.

Alasannya, pada 6 Oktober 1945 ada peristiwa yang dianggap lebih penting, yakni bertepatan dengan Jepang yang menyerahkan studio Nippon Eiga Sha kepada Pemerintah RI yang diwakili oleh RM Soetarto. Studio itu kemudian berganti nama menjadi PPFN (Pusat Produksi Film Negara).

Upaya untuk mengajukan 30 Maret sebagai Hari Film Nasional terus dilakukan dan baru membuahkan hasil pada masa pemerintahan Presiden BJ. Habibie. Melalui Keputusan Presiden No. 25 tahun1999, tanggal 30 Maret ditetapkan sebagai Hari Film Nasional. [ikh]

Komentar

x