Find and Follow Us

Kamis, 14 November 2019 | 05:06 WIB

Perbanyak Keturunan Sapi dengan Transfer Embrio

Sabtu, 25 Agustus 2012 | 19:05 WIB
Perbanyak Keturunan Sapi dengan Transfer Embrio
inilah.com/Wirasatria
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta - Berbagai upaya untuk mengembangkan peternakan sapi potong dan sapi perah telah dilakukan pemerintah antara lain meningkatkan kualitas genetik.

Seleksi atau upaya perbaikan mutu gentik untuk mendapatkan breed baru yang unggul memerlukan waktu yang sangat lama, mahal, dan hasilnya kadang-kadang tidak memuaskan.

Hal ini terjadi karena adanya beberapa kendala yang secara riil banyak dijumpai di lapang, seperti keterbatasan sarana dan prasarana, populasi, biaya, manajemen, dan lain-lain. Kendala lain yaitu cara memperbanyak sapi betina berkualitas atau unggul.

Secara alami seekor induk hanya mampu menghasilkan satu ekor anak dalam setahun atau rata-rata hanya mampu menghasilkan anak yang berkualitas kurang dari delapan ekor sepanjang hidupnya.

Apalagi separuh dari anak yang dihasilkan adalah jantan. Usaha untuk mendapatkan sintetik breed sampai saat ini belum menunjukkan hasil yang nyata.

Beberapa tahun belakangan ini selain Inseminasi Buatan (IB) dikenal pula istilah Transfer Embrio (TE). TE merupakan suatu proses mengambil (flushing) embrio dari uterus sapi donor (penghasil embrio) yang telah diopulasi ganda (superovulasi) dan memindahkannya ke uterus sapi resipien (penerima embrio) dengan menggunakan metoda, peralatan dan waktu tertentu.

Teknologi ini merupakan generasi kedua bioteknologi reproduksi setelah inseminasi buatan (IB) yang paling sering diterapkan pada ternak sapi.

Pada program TE beberapa tahapan yang harus dilalui adalah pemilihan sapi-sapi donor dan resipien, sinkronisasi birahi, superovulasi, inseminasi, koleksi embrio, penanganan dan evaluasi embrio, transfer embrio ke resipien sampai pada pemeriksaan kebuntingan dan kelahiran.

Untuk menghasilkan bibit murni (pure breed), melalui aplikasi TE hanya diperlukan waktu 1 (satu) generasi (9 bulan) untuk memperoleh bibit murni (100% purebreed). Sedangkan aplikasi IB memerlukan waktu minimal 5 (lima) generasi (sekitar 15 tahun) untuk memperoleh tingkat kemurnian bibit 96%.

Aplikasi TE dapat memberikan peningkatan perkembangan ternak bibit unggul baik dari sisi pejantan maupun sisi betina dan mengurangi biaya dalam proses transportasi penyebaran bibit unggul serta mengurangi resiko penyebaran penyakit menular.

Teknologi ini merupakan dasar bioteknologi dalam mendukung rekayasa embrio yang lebih tinggi dibidang reproduksi ternak.

Dapat dilihat, aplikasi teknologi TE memiliki manfaat ganda karena selain dapat diperoleh keturunan sifat dari kedua tetuanya juga dapat memperpendek interval generasi sehingga perbaikan mutu genetik ternak lebih cepat diperoleh.

Saat ini produksi embrio dapat mencapai 30 - 50 embrio/koleksi, tetapi rata-rata hanya sekitar 5-10 embrio/koleksi yang layak untuk ditransfer atau dibekukan. Sehingga seekor sapi (donor) dapat menghasilkan keturunan lebih dari 25 ekor per tahun, bila dibandingkan dengan perkawinan alam atau IB hanya mampu melahirkan 1 ekor anak sapi pertahun.

Bahkan bisa dibuat kembar identik dalam jumlah yang banyak dengan menggunakan teknik Cloning. Teknologi TE juga dapat membuat jenis kelamin (jantan atau betina) anak sapi yang diinginkan.

Diawal 1990-an, Puslit Bioteknologi - LIPI bekerjasama dengan Peternakan Tri "S" Tapos telah berhasil mengembangkan penelitian dan mengaplikasikan teknologi TE pada sapi potong dan sapi perah.

Sejak 1995 embrio beku sapi perah mulai disebar ke peternak di Bogor, Lembang dan Garut dalam program bantuan Bapak Presiden (Banpres).

Tahun 1997 dimulai program membuat sapi unggul jenis Brangus khususnya daerah Indonesia Timur (Lombok, NTB), setelah itu aplikasi TE berkembang secara meluas di Sulawesi dan Sumatera. [mor]

Komentar

Embed Widget
x