Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 22 Januari 2018 | 06:52 WIB
 

Tanzania Akan Sensus Kuda Nil dan Buaya

Oleh : - | Rabu, 10 Januari 2018 | 00:30 WIB
Tanzania Akan Sensus Kuda Nil dan Buaya
(ist)

INILAHCOM, Arusha - Tanzania siap melakukan sensus untuk kuda nil dan buaya dalam upaya meningkatkan pelestarian hewan liar tersebut.

Tindakan itu dilakukan di tengah laporan yang menunjukkan pemburu gelap tengah mengincar kuda nil dan buaya untuk diambil giginya, yang memiliki harga menggiurkan di pasar di Asia, yang banyak masyarakatnya mempercayai sebagai bahan obat.

Direktur Jenderal Lembaga Penelitian Margasatwa Tanzania Simon Mduma mengatakan dalam satu wawancara bahwa sensus populasi kuda nil dan buaya akan diselenggarakan antara Juli dan Agustus 2018.

Dia menyebut, dana untuk kegiatan itu telah diajukan dan lembaganya berharap bisa melaksanakan tugas tersebut selama musim kering.

"Sayangnya, kami memperoleh dana dari pemegang saham tahun lalu, ketika musim kering berakhir dan kami gagal, sebab pelaksanaan akan dilakukan di sungai. Hal itu akan melibatkan penelitian darat serta udara," kata Mduma, seperti dilansir kantor berita Xinhua.

Pelaksanaan sensus itu, menurut dia, akan dimulai untuk satwa kuda nil dan buaya yang berada di Taman Nasional Tanzania Selatan maupun area permainannya, dan akan melibatkan ahli dari Taman Nasional Tanzania serta Lembaga Penanganan Margasatwa Tanzania.

Sensus terakhir di seluruh negeri tersebut secara khusus buat kuda nil dilaksanakan pada 2001 dan hasilnya memperlihatkan ada 20.079 ekor.

Tidak diketahui berapa kuda nil yang kini tersisa di seluruh Afrika, namun selama beberapa dasawarsa berlakangan ini tercatat dalam kondisi paling berbahaya di Tanzania, bahkan lebih banyak dibanding perburuan ilegal terhadap singa, gajah, dan banteng Cape.

Data statistik memperlihatkan Tanzania memiliki sistem yang mengizinkan perburuan dan penjualan gigi kuda nil yang dikumpulkan dari hewan yang mati karena sebab alamiah.

Namun, Tanzania membekukan izin ekspor gigi kuda nil pada 2004, yang berarti tak ada gigi kuda nil yang diekspor secara resmi kecuali yang diperoleh melalui perburuan tidak sah, yang kadang berkedok kegiatan olah raga alam liar.

Pencinta lingkungan hidup percaya dengan mekanisme peraturan yang ada dan peningkatan upaya anti-perburuan gelap, dan populasi kuda nil di Tanzania tidak terancam oleh tingkat perburuan legal yang berlaku.

Satu laporan yang diberi nama 'Memerangi Perdagangan Bawah Tanah untuk Gigi Kuda Nil', yang disiarkan pada 2016 oleh National Geographic, mencatat bahwa kartel perburuan gelap yang beroperasi di Tanzania dan tempat lain di Afrika baru-baru ini telah beralih ke kuda nil untuk diambil giginya, yang diukir menjadi pajangan mencapai harga jutaan dolar AS di Asia.

Catatan dalam Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Flora dan Fauna Liar yang Terancam Punah (CITES) memperlihatkan antara 2004 dan 2014 Hong Kong mengimpor hampir 60 ton gigi kuda nil liar di Afrika untuk tujuan komersial.

CITES juga mencatat negara sumbernya didominasi Tanzania, Zambia, Zimbabwe, dan Malawi.

Komentar

 
Embed Widget

x