Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 11 Desember 2017 | 16:37 WIB

Operasi dengan Bantuan Robotik Tak Selalu Efektif

Oleh : - | Jumat, 27 Oktober 2017 | 03:03 WIB
Operasi dengan Bantuan Robotik Tak Selalu Efektif
Dokter bedah menggunakan robot da Vinci untuk membantu operasi hernia di University Hospital Geneva, di Jenewa, Swiss. - (AP Photo)
facebook twitter

INILAHCOM, Washington - Operasi dengan bantuan robot mekanis jauh lebih mahal ketimbang operasi invasif minimal lainnya, namun tidak memperbaiki hasil pembedahan untuk kasus tumor ginjal dan kanker dubur.

"Meningkatnya prosedur operasi dengan menggunakan robot yang mahal sebagai pengganti operasi laparoskopi tanpa memastikan keuntungan bagi pasien adalah masalah yang tidak hanya terjadi pada bidang urologi tetapi juga pada keseluruhan bidang bedah," kata Dr. In-Gab Jeong dari Universitas Ulsan College of Medicine, Seoul, Korea Selatan kepada Reuters.

"Hal ini dapat menyebabkan peningkatan biaya perawatan medis yang sangat besar yang dapat menjadi beban yang signifikan pada sistem layanan kesehatan," imbuhnya.

Mengutip VOA News, dalam operasi yang dibantu robot, instrumen yang sama yang digunakan dalam operasi laparoskopi dihubungkan ke perangkat robot yang memungkinkan visualisasi 3D (tiga dimensi), rentang gerak instrumen yang lebih banyak, dan meningkatnya fungsi ergonomi untuk ahli bedah.

Pemasaran dan persaingan yang luas di antara rumah sakit telah menyebabkan penggunaan operasi dengan bantuan robot secara luas untuk berbagai prosedur, namun tetap kontroversial karena kenaikan biaya dan kurangnya bukti hasil perbaikan dibandingkan dengan pendekatan invasif non-robot.

Dalam sebuah penelitian yang dilaporkan dalam Journal of American Medical Association, tim Jeong menggunakan basis data Amerika untuk membandingkan hasil dan biaya operasi dengan bantuan robot dibandingkan operasi laparoskopi untuk operasi ginjal yang ekstensif.

Sekitar 27 persen dari keseluruhan jumlah operasi pada 2015 di lakukan dengan bantuan robotik, melonjak dari 1,5 persen pada 2003. Operasi laparoskopi menurun secara paralel selama periode tersebut.

Setelah memperhitungkan berbagai faktor, operasi pembedahan robotik memiliki tingkat komplikasi utama yang sama dengan operasi laparoskopi, termasuk transfusi darah dan rawat inap di rumah sakit yang cukup lama.

Namun, biaya yang harus dikeluarkan untuk operasi dengan bantuan robotika rata-rata mencapai US$2.678 atau sekitar Rp36,5 juta, lebih tinggi daripada operasi laparoskopi, terutama karena waktu operasi yang lebih lama dan biaya suplai yang lebih tinggi.

"Perkembangan dan penggunaan platform robot mungkin bisa membantu dalam perawatan pasien," kata Jeong.

"Namun, penelitian ilmiah mengenai efektivitas biaya dan keamanan terkadang tidak dilakukan dengan cukup baik, dan dengan cepat menyebar di bidang medis karena berbagai alasan, seperti pemasaran perusahaan, preferensi pasien terhadap teknologi terbaru, dan rekomendasi dari rumah sakit atau dokter," imbuhnya.

Dalam sebuah studi kedua dalam edisi yang sama dari jurnal tersebut, Dr. David Jayne dari Rumah Sakit Universitas St. James di Leeds, Inggris dan rekan-rekan dari 29 pusat di 10 negara meneliti apakah operasi dengan bantuan robot cenderung tidak perlu mengubah menjadi prosedur operasi terbuka, dibandingkan dengan operasi laparoskopi konvensional pada 471 pasien yang menderita kanker dubur.

Kelompok yang menjalani operasi dengan bantuan robotik memerlukan waktu rata-rata 37,5 menit lebih lama dibanding kelompok yang menjalani operasi laparoskopi konvensional, namun perangkat robot tersebut tidak mengurangi kebutuhan untuk mengubah beberapa operasi menjadi prosedur operasi terbuka.

Perangkat robot juga tidak mengurangi tingkat komplikasi, baik selama proseduratau dalam 30 hari setelah prosedur.

Seperti dalam studi bedah ginjal, biaya perawatan kesehatan secara signifikan lebih tinggi dengan operasi yang dibantu robot dibandingkan dengan operasi laparoskopi konvensional, rata-rata US$1.132 atau sekitar Rp15,4 juta.

Komentar

 
Embed Widget

x