Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 16 Desember 2017 | 02:33 WIB

Inilah Bahaya Abu Vulkanik Bagi Penerbangan

Oleh : - | Senin, 2 Oktober 2017 | 20:30 WIB
Inilah Bahaya Abu Vulkanik Bagi Penerbangan
(inilahcom/ikhsan)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Gunung Agung di Bali kini tengah bergejolak. Gunung berapi aktif setinggi 3.014 mdpl itu kini sedang berstatus 'Awas' dan diberi warna kuning oleh Volcano Observatory Notice for Aviation (VONA).

Aktivitas gunung berapi yang sedang bergejolak itu bisa mempengaruhi transportasi, baik darat maupun udara. Penerbangan misalnya, akan diminta untuk tidak melewati wilayah gunung berapi tersebut sebab debu vulkaniknya berpotensi merusak pesawat.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubugan Agus Santoso dalam siaran persnya mengatakan bahwa debu vulkanik bisa berakibat fatal pada penerbangan, seperti merusak bilah turbin jika masuk ke dalam mesin.

"Debu vulkanik yang meleleh akan membeku pada bilah turbin, menggumpal dan melapisinya sehingga menghalangi aliran udara normal. Dengan begitu mesin akan kehilangan tenaga atau mati," kata Agus.

Dampak lain, gumpalan debu vulkanik juga dapat melapisi sistem sensor suhu bahan bakar. Akibatnya, sensor akan memberikan informasi palsu, membuat indikator yang salah dengan menyatakan mesin dalam kondisi dingin. Pemakaian bahan bakar meningkat, terjadi kenaikan panas dan berujung pada kerusakan turbin dan kematian mesin.

Agus juga menjelaskan bahwa debu vulkanik dapat merusak kaca kokpit pesawat dengan konturnya yang tajam. Kondisi ini bisa terjadi saat pesawat melaju dengan kecepatan di atas 500 mil/jam. Pandangan pilot yang sangat terbatas akan membuat penerbangan menjadi berbahaya.

"Bila debu masuk ke dalam tabung pengukur kecepatan, membuat kerusakan dan kekeliruan dalam membaca data kecepatan pesawat," ungkap Agus mengungkapkan dampak lain.

Gunung Agung sudah 54 tahun tidak mengalami erupsi. Diharapkan, aktivitas yang terjadi di Pulau Dewata itu lebih kecil dibandingkan saat erupsi pada tahun 1963.

Kini, warga yang tinggal di sektor barat daya, selatan, tenggara, timur laut, utara, dari Gunung Agung seluas 12 km telah direlokasi untuk mencegah dampak buruk gunung berapi.

Komentar

 
Embed Widget

x