Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 24 November 2017 | 12:24 WIB

Peran Coder dan Programer Indonesia di Masa Depan

Oleh : - | Minggu, 10 September 2017 | 00:35 WIB
Peran Coder dan Programer Indonesia di Masa Depan
(ist)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Di luar perusahaan teknologi, kebutuhan pasar atas pekerjaan ahli kode komputer alias coder dan programer terus meningkat. Digitalisasi nyaris di semua lini membuat kebutuhan coder terus meningkat.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Glassdoor di 2015, delapan dari 25 pekerjaan paling diinginkan adalah dari dunia industri teknologi. Para coder dengan keahlian mereka bisa dengan mudah masuk di Apple atau mungkin industri lain seperti kesehatan hingga otomotif.

Laporan dari Burning Glass di tahun lalu mengatakan jika ada tujuh juta lapangan pekerjaan bagi para coder dan hal itu sangat impresif sejauh 12 persen dari rata-rata serapan lapangan pekerjaan secara global.

Setidaknya ada lima lapangan pekerjaan utama yang akan dengan mudah membuka pintu bagi para coder, yaitu, pekerja di bidang IT, analis data, artis dan desainer, enjiner dan ilmuan.

Jika melihat lapangan mayor, keberadaan coder dibutuhkan nyaris di semua lini yang menyangkut kehidupan manusia secara aplikatif, semisal mereka yang berkeja di bidang finansial, manufakturing dan kesehatan.

Di 2015, data BLS mengungkap dari 26 juta lapangan pekerjaan di AS, kemampuan pemrograman komputer dan coder paling dicari ketimbang pekerjaan lainnya.

Kebutuhan industri dan stok ahli coder tidak seimbang, namun bukan berarti hal itu akan menyurutkan profesi coder, lantaran kehadiran old industries yang telah kuat pasti dibarengi oleh kemampuan mereka secara digital, bahkan di level pemerintahan yang melirik bahwa para coder adalah aset yang harus 'diselamatkan', yang belakangan baru disadari di Indonesia.

Burning Glass mencatat, pendapatan seorang coder lebih tinggi US$22,000 dari pekerja profesional lainnya dalam rata-rata pertahun. Apa yang paling diinginkan industri saat ini? Dan itu potensi bagi mereka yang ingin menjadi coder.

1. SQL Databases
2. Java -General purpose programming
3. Javascript -Web development
4. Linux Computer system operations
5. XML General purpose programming
6. C++ -General purpose programming, especially in engineering
7. C# -General purpose programming
8. Python -General purpose programming
9. NET -General purpose programming

Bahkan, posisi sebagai IT memiliki spesialisasi khusus, seperti saat ini posisi para ilmuan yang menggunakan pemrograman komputerisasi matematika seperti Phyton, yang tidak perlu harus bertingkah seperti pekerja kantoran dengan basis harian.

Pasar global saat ini, khususnya di bidang teknologi benar-benar membuka peluang besar, namun juga sebagai arena pertarungan yang buas. Tidak seperti pendidikan konvensional, saat ini kebutuhan atas 'keahlian' seperti science data yang biasa para punggawanya adalah lulusan matematika atau fisika, kini kehadiran para programmer dan juga coder tidak perlu memiliki jenjang pendidikan formal untuk mampu menyaingi mereka.

Bahkan Massachusetts Institute of Technology (MIT), setahun ke belakang, meluncurkan program baru mereka di New Hampshire yang disebut Coding Across the Curriculum 'TeachCode Academy' yang mendorong guru-guru di NH belajar computer science dan memasukannya dalam kurikulum.

Pekerjaan sebagai ahli bahasa komputer dinilai memiliki kesempatan 89 persen lebih baik dari pada karir pekerjaan lain yang hanya 44 persen dan bentuk kolaborasi antarprofesi, yang suka tidak suka akan hadir.

Tidak untuk mengerdilkan jenis pekerjaan lain, namun ini menjadi kesempatan untuk bisa fit-in dalam persaingan global.

Bagaimana di Indonesia? Kehadiran coder mulai terasa geliatnya, dan hal itu akan terus berkembang. Program pemerintah 1.000 start-up jadi salah satu pertanda, teknologi tak bisa dibendung dan negara sadar akan hal itu.

CEO Refactory.id Taufan Aditya mengakui jika peluang besar terbuka lebar, terlebih untuk pasar Asia, termasuk Indonesia bagi para programer dan ahli bahasa komputer.

"Asia itu ibaratnya tanah tak bertuan, pemainnya masih sedikit yang benar-benar ada di kelas profesional, apalagi di Indonesia," kata Taufan dalam keterangan tertulisnya kepada INILAHCOM.

Refactory.id sendiri mencoba untuk mengambil peluang tersebut dengan membuka bootcamp singkat di Bandung, bagi pengkode dan programer kelas menangah untuk meningkatkannya pada level profesional setiap tiga bulan sekali. Pasalnya, kebutuhan industri belum bisa terpenuhi dengan sumber daya manusia yang ada.

"Sulit memang jika yang ikut bootcamp kami itu tanpa dasar sama sekali di dunia coder dan pemrograman. Karena waktu yang singkat hanya tiga bulan. Tapi tidak menutup kemungkinan ke depan untuk membuka kelas bagi para peminat newbie," ujar Taufan.

Di Indonesia, masih belum banyak penyedia bootcamp profesional seperti Refactory.id, namun hal itu akan menjadi tren dalam beberapa tahun kedepan. Beberapa kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya telah hadir beberapa bootcamp, dengan harga yang bervariasi antara Rp30 juta hingga Rp40 juta untuk setiap batch, dalam waktu 12 minggu, dengan tingkat kepadatan belajar yang luar biasa.

"Di Refactory, kelas kami gelar lima hari seminggu, per harinya 12 jam selama satu batch atau 12 minggu. Sangat, padat kan?" kata Taufan.

Memang terbilang mahal, namun ternyata jauh lebih murah jika dibandingkan kursus singkat yang setara bagi para coder dan programer di luar negeri berkisar di angka US$10 ribu hingga US$15 ribu atau Rp130 juta hingga Rp180 jutaan.

Ladang industri yang begitu luas dengan keterbatasan 'petani penggarap' di bidang teknologi adalah masalah. Itu jadi tantangan Pemerintahaan Jokowi yang hendak memberikan akses internet di seluruh nusantara yang ditargetkan berhasil diraih di 2019. Akses internet dan kehadiran para coder tak bisa dipisahkan.

Dengan koneksi internet yang baru dirasakan tidak lebih dari 80 juta orang Indonesia, bisa dibayangkan seberapa besar peluang saat internet telah paripurna di seluruh nusantara yang menghinggapi 250 juta jiwa? Tapi peluang itu berlaku bagi mereka yang telah siap.

"Maka persiapkanlah sedari sekarang. Dan perlu di ingat, itu hanya di Indonesia saja. Karena dunia saat ini adalah sebuah 'Global Village'," pungkas Taufan.

Komentar

 
x