Find and Follow Us

Kamis, 18 Juli 2019 | 12:05 WIB

Tren Belajar Online di Indonesia Meningkat 25%

Oleh : Ibnu Naufal | Rabu, 5 Juli 2017 | 13:50 WIB
Tren Belajar Online di Indonesia Meningkat 25%
(ilustrasi)

INILAHCOM, Jakarta - Indonesia menjadi negara dengan tren positif dalam industri pendidikan online (e-learning), yakni menempati urutan ke-8 di seluruh dunia berdasarkan total market e-learning setiap tahunnya.

Menurut data laporan Docebo.com, total market e-learning ada US$51,5 miliar di tahun 2016 dengan angka pertumbuhan rata-rata per tahun 7,9 persen di seluruh dunia. Sedangkan Asia memiliki total market US$7,1 miliar dengan angka pertumbuhan per tahun 17,3 persen.

Bahkan Indonesia menjadi salah satu negara yang mencatatkan total pertumbuhan market e-learning rata-rata sebesar 25 persen melebihi rata-rata di Asia dan seluruh dunia setiap tahunnya.

Asia menunjukkan tren paling menarik yang meliputi literacy development, demand of contents, adoption of technology, highest growth rate, integration with talent management, dan strong government initiatives.

Adapun Indonesia memiliki peluang yang menjanjikan di tahun 2017 karena diproyeksi mengalami peningkatan e-learning market sejumlah US$12,2 miliar. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh Squline untuk meraup pangsa pasar e-learning yang lebih besar di Indonesia.

Selain itu, di tahun ini pula Indonesia diproyeksikan menjadi Top 5 Buyers of Mobile Learning Products and Services di seluruh dunia dengan urutan China, AS, Indonesia, India, dan Brasil.

Berdasakan tren positif tersebut, ada beberapa catatan peluang yang baik untuk Indonesia di antaranya Top 10 E-learning Growth Rate, Top 10 E-learning Market Revenue, dan Top 5 Buyer of Mobile E-learning (Docebo.com).

"Tren edukasi bahasa asing sebenernya sudah ada sejak lama, kami melihat kebutuhan kemampuan bahasa asing di Indonesia juga semakin meningkat setiap tahunnya. Oleh karena itu, kami harus jeli memanfaatkan momentum ini dengan meluncurkan sebuah solusi guna menjawab tantangan belajar masyarakat," ungkap Tomy Yunus, CEO Squline, dalam keterangan tertulisnya kepada INILAHCOM.

"Kami melakukan riset bahwa sebagian besar siswa-siswi yang belajar bahasa asing memiliki problem jadwal belajar yang kurang fleksibel, terutama untuk para profesional muda. Inilah yang mendorong kami meluncurkan jasa kursus belajar asing secara online, pertama di Indonesia," imbuhnya.

Sementara itu, CEO WIR Group.Slingshot yang juga Chairman DM ID Group, Daniel Surya, mengatakan bahwa peluang bertumbuhnya bisnis e-learning di Indonesia sangat besar dan prospektif.

Ini ditandai dengan naiknya jumlah permintaan akan kebutuhan e-learning setiap tahunnya. Terlebih belum banyak penyedia jasa e-learning di Indonesia.

Menurut dia, bagi para pelaku usaha yang sedang menggeluti bisnis ini perlu strategi yang matang agar dapat meraih peluang secara optimal.

"Strategi marketing untuk bisnis e-learning harus agresif dan tepat sasaran, terlebih dari sisi branding untuk menciptakan awareness dan meningkatkan angka pertumbuhan bisnis," ujarnya.

Komentar

x