Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 24 Juni 2017 | 07:18 WIB

Tekad Shell Hadirkan Energi Lebih Bersih

Oleh : Ibnu Naufal | Selasa, 16 Mei 2017 | 01:45 WIB
Tekad Shell Hadirkan Energi Lebih Bersih
(ist)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Kebutuhan energi secara global semakin bertambah seiring dengan semakin tingginya populasi penduduk dunia dengan standar hidup yang meningkat pula. Hal ini membawa konsekuensi berupa peningkatan jumlah CO2 di atmosfer dan gas rumah kaca lainnya.

Oleh karena itu dibutuhkan upaya serius secara kolektif untuk mengurangi dampak pencemaran lingkungan dan menghadapi perubahan iklim dengan mendatangkan lebih banyak energi dari sumber-sumber yang jumlah karbonnya rendah.

"Hal ini yang menjadi concern kami secara global. Pengetahuan, teknologi, dan inovasi yang kami miliki bisa membantu menghadirkan solusi untuk menjawab tantangan transisi energi masa depan," kata Darwin Silalahi, President Director & Country Chairman Shell Indonesia, dalam keterangan tertulisnya kepada INILAHCOM.

"Ini merupakan salah satu upaya Shell untuk membantu mewujudkan kehidupan yang lebih baik dengan menghadirkan energi yang lebih banyak dan lebih bersih," ujarnya menambahkan.

Darwin menyampaikan tekad Shell tersebut di hadapan ratusan mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) dalam kuliah umum bertajuk A Better Life with A Healthy Planet.

Kuliah umum yang diselenggarakan di UNS Inn, Solo pada Senin (15/5/2017) ini dihadiri juga Walikota Surakarta FX Hadi Rudyatmo, Rektor UNS Prof Dr H.Ravik Karsidi MS, jajaran rektorat dan dekan serta civitas akademi UNS lainnya.

Pemilihan UNS sebagai tempat kuliah umum eksekutif Shell Indonesia ini didasarkan atas keberhasilan mahasiswa UNS melalui Tim Bengawan sebagai juara ke-2 Drivers World Championship (DWC) Asia, yang digelar di Singapura pada 19 Maret 2017.

Atas keberhasilan ini, bersama tim ITS Team 2 dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, mereka berhak mewakili Asia mengikuti kualifikasi untuk berkompetisi di Final DWC di London, 23-28 Mei 2017.

Pada tahun 2016, Royal Dutch Shell meluncurkan sebuah kampanye global bertajuk Make the Future yang mengajak, mendorong dan melibatkan orang-orang dari berbagai kelompok di seluruh dunia untuk terlibat dalam melakukan berbagai upaya pencarian solusi yang dapat menjawab tantangan energi masa depan.

Shell Eco-marathon dan Drivers World Championship ini merupakan elemen penting dari program global Make the Future yang secara khusus melibatkan generasi muda dan mahasiswa untuk mengambil peran proaktif dengan merancang, menciptakan dan mengendarai mobil hemat energi.

Tema kuliah umum yang disampaikan Darwin di UNS ini merupakan bagian dari Scenarios and A Net-Zero Emission World yang sejalan dengan tema program Make the Future tersebut.

Terkait dengan skenario, Darwin memaparkan bahwa Shell telah meluncurkan 'Shell's New Lens Scenarios' pada 2013 dalam melihat masa depan dunia pada akhir abad ini atau tahun 2100.

Yang perlu dicatat, skenario ini merupakan cerita alternatif yang masuk akal di masa depan, bukan rencana atau sesuatu yang menjadi target Shell. Pasalnya, skenario ini tidak menjelaskan apa yang akan terjadi (a forecast) atau apa yang harus terjadi (a policy prescription), tapi apa yang bisa terjadi.

Dalam skenario terbaru A Better Life with a Healthy Planet, ada upaya optimistis Shell untuk mewujudkannya. Sikap optimis itu dilakukan dengan cara mengombinasikan semuanya secara masuk akal baik dalam kebijakan, penerapan teknologi sesuai dengan kondisi yang ada.

Ada harapan untuk emisi lebih rendah yang merupakan solusi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dengan kondisi planet yang lebih sehat dalam skala waktu yang konsisten dengan aspirasi global.

Dalam presentasinya, Darwin melihat bahwa masa depan itu dipenuhi dengan hal ketidakpastian, hanya sedikit yang pasti.

Pertama, terkait transisi energi. Hal ini bisa dilihat bagaimana proses transisi energi itu terjadi. Selama 50.000 tahun keberadaan kehidupan manusia, sumber energi umat manusia telah melewati transisi yang tumpang tindih.

Kedua, transisi bisa terjadi dengan cara yang tidak bisa diduga. Hal ini bisa dilihat pada inovasi sistem transportasi yang berubah secara radikal. Awalnya hanya alat transportasi yang ditarik dengan kuda berkembang menjadi kendaraan yang lebih modern dan bebas polusi hingga sistem transportasi yang lebih canggih lagi.

Ketiga, harapan masyarakat yang terus berkembang dan berlangsung hanya satu arah. Apa yang 'dapat diterima' di tahun 1940-an tentu saja tidak popular lagi hari ini. Demikian juga apa yang dapat diterima hari ini mungkin tidak dapat diterima lagi 10, 20, atau lebih dari 50 tahun dari sekarang.

"Sebagai warga masyarakat, kita selalu berharap bahwa perusahaan yang beroperasi di sekitar kita agar dapat menjalankan kegiatan bisnis dengan lebih bersih, lebih aman, lebih bertanggung jawab, dan lebih transparan," ujarnya.

Pemaparan di atas menunjukan bahwa sistem energi yang dirancang saat ini berperan menentukan masa depan. Selama ini, yang selalu dikedepankan adalah strategi, kebijakan dan pilihan dalam menentukan sumber energi. Tapi, fakta memperlihatkan bahwa sistem energi juga ditentukan oleh pilihan dalam penggunaan energi.

Berdasarkan data dari Shell Analysis World Energy Model: World Energy Demand 2015 memperlihatkan bahwa di tahun 2015, penggunaan minyak mencapai 32 persen, gas 22 persen, batubara 27 persen, biomassa 10 persen, nuklir 5 persen, dan energi terbarukan/ renewable sebanyak 4 persen.

Sedangkan listrik (18 persen) dan fuel & feedstock (82 persen) yang terbagi untuk konsumsi perumahan sebesar 32 persen, transportasi 27 persen, serta industri dan layanan 41 persen.

Harus diakui bahwa dunia saat ini membutuhkan lebih banyak energi untuk proses pembangunan dan sumber-sumber energi rendah karbon untuk menjawab tantangan perubahan iklim.

Dunia dengan emisi net-zero itu bukan berarti dunia tanpa emisi apapun, melainkan emisi tersebut secara bersamaan diimbangi dengan menurunnya kadar CO2 dari atmosfer Bumi.

Saat ini kita melihat bahwa 80 persen sumber energi utama berasal dari batubara, gas dan minyak. Sementara jika kita mengacu pada sistem energi net-zero emission di masa depan (pada tahun 2100), batubara, gas dan minyak, hanya menempati sekitar 20-25 persen dari bauran energi (energy mix), dan lainnya diisi oleh 40 persen tenaga surya dan angin, sekitar 15 persen nuklir, dan 20 persen bioenergi.

"Transformasi ini dapat terjadi dan bahkan analisa kami menunjukkan dapat dicapai dalam abad ini, tetapi harus didorong dari transformasi pemakaian konsumsi"," Darwin melanjutkan.

Mengambil sektor transportasi (untuk kendaraan penumpang) sebagai salah satu contoh, terlihat dalam beberapa dasa warsa ke depan, penggunaan tenaga listrik (baterai, hydrogen fuel cell, hybrid) akan semakin meningkat. Namun saat ini, lebih dari 90 persen kendaraan masih menggunakan BBM.

Tentu secara realistis transisi ini tidak akan terjadi secara cepat, mengingat sebuah kendaraan termasuk asset bernilai besar dalam suatu rumah tangga dan bernilai guna ekonomis selama 15 tahun atau lebih.

Minyak dan gas juga akan terus banyak digunakan di sub-sektor penerbangan, perkapalan dan angkutan barang, dalam beberapa waktu ke depan. Sejalan dengan tumbuhnya penggunaan baterai (misalnya di wilayah kota kecil), hidrogen dan LNG juga memiliki potensi untuk menjadi alternatif bahan bakar konvensional seperti bensin dan solar. [ikh]

Tags

 
Embed Widget

x