Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 24 Mei 2017 | 15:03 WIB

Ilmuwan Kembangkan 'Perban Pintar' Pemantau Luka

Oleh : - | Senin, 17 April 2017 | 17:30 WIB
Ilmuwan Kembangkan 'Perban Pintar' Pemantau Luka
(BBC)
facebook twitter

INILAHCOM, Swansea - Perban yang bisa mendeteksi tingkat pemulihan luka dan mengirim datanya ke dokter akan dapat diuji coba dalam 12 bulan mendatang.

Dikembangkan Institute of Life Science (ILS) Swansea University, di Swansea, Wales, Britania Raya, perban tersebut menggunakan teknologi 5G untuk memantau perawatan apa yang perlu dilakukan sekaligus memantau aktivitas pasien.

"5G merupakan kesempatan untuk memproduksi bandwidth yang tangguh dan kuat sehingga bisa diandalkan untuk tujuan layanan kesehatan," kata Profesor Marc Clement, Kepala ILS, seperti dilansir BBC.

Menurut dia, perban tersebut memakai teknologi nano untuk mendeteksi kondisi luka dalam periode waktu tertentu.

"Luka itu akan terhubung melalui infrastruktur 5G. Infrastruktur dalam telepon Anda juga akan mengenali hal-hal mengenai Anda, seperti di mana posisi Anda serta seberapa aktif Anda dalam suatu masa," jelas Profesor Clement.

"Kombinasi semua kecanggihan itu membuat dokter tahu kondisi luka dalam suatu waktu yang spesifik dan memutuskan penanganannya kepada individu dan luka tersebut," imbuhnya.

Pengobatan tradisional, kata Profesor Clement, adalah ketika dokter bertemu pasien dan kemudian meresepkan penanganannya dalam sebulan atau tiga bulan.

Akan tetapi, di masa depan, para dokter dimungkinkan untuk mencoba beragam penanganan tergantung individu, gaya hidup, dan pola aktivitasnya.

"Terkadang kita terlalu menghormati dokter sedemikian rupa sehingga kita memberitahu mereka bahwa semua baik-baik saja. Namun, di dunia 5G ini semua bukti telah mereka miliki. Dengan begitu, pasien dan dokter bisa bekerja sama menangani penyakit," kata Profesor Clement.

Guna memproduksi 'perban pintar' itu, para pakar teknologi nano akan mengembangkan sejumlah sensor kecil. Adapun ILS akan membuar perbannya menggunakan perangkat cetak 3D.

Profesor Clement mengatakan, para pakar di Pusat Inovasi Luka Wales akan dilibatkan dalam uji coba sehingga satu juta orang bisa melakukan uji coba.

 
Embed Widget

x