Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 23 September 2017 | 16:24 WIB

Berbicara dengan Hewan Pertanda Kecerdasan Sosial

Oleh : - | Senin, 17 April 2017 | 03:00 WIB
Berbicara dengan Hewan Pertanda Kecerdasan Sosial
(petfinder.com)
facebook twitter

INILAHCOM, Chicago - Bisa dianggap sebagai hal yang wajar jika anak kecil berbicara dengan mainan atau hewan kesayangan mereka. Tapi jika ada orang dewasa masih memiliki kebiasaan seperti itu, sering kali dianggap sebagai suatu hal yang aneh.

Sebenarnya ada alasan ilmiah mengapa manusia cenderung senang bicara dengan hewan atau benda. Dan ternyata, ini ada hubungannya dengan kecerdasan sosial.

Salah satu alasan memberi bentuk manusia pada hewan, tanaman, benda atau obyek adalah karena kemampuan unik kita untuk mengenali dan menemukan wajah manusia di mana pun.

Ahli ilmu perilaku di University of Chicago, AS, yang juga pakar antropomorfisme, Profesor Nicholas Epley mengatakan bahwa secara sejarah, antropomorfisme diperlakukan sebagai tanda kekanakan atau kebodohan.

"Sebenarnya ini adalah produk sampingan alami dari kecenderungan yang membuat manusia secara unik cerdas di bumi ini. Spesies lain tak memiliki kecenderungan ini," ujar Profesor Epley.

Sadar atau tidak, manusia melakukan antropomorfisme pada benda-benda dan kejadian di sepanjang waktu. Salah satu kelaziman antropomorfisme adalah pemberian nama manusia pada obyek-obyek.

Menurut Profesor Epley, ada tiga alasan mengapa kita memberi nama obyek.

"Kita melihat wajah-wajah di mana pun, menghubungkan pikiran ke hal-hal yang disuka, dan cenderung mengasosiasikan ketidakpastian dengan manusia," jelasnya.

Sebagai manusia, lanjut Profesor Epley, kita ditanamkan untuk melihat wajah dan insting ini akan membantu kita membedakan teman dengan predator yang berpotensi berbahaya. Kadang insting ini begitu kuat sehingga kita melihat wajah-wajah di benda.
Hal yang disebut pareidolia ini adalah sebuah kelaziman. Bahkan ada akun Twitter dengan pengikut 561 ribu follower yang membagi foto-foto wajah yang terlihat di benda-benda.

"Mata palsu adalah trik yang menipu kita sepanjang waktu. Satu mata yang menipu kita bisa melihat ke jiwa, mata itu padahal tidak ada," kata Profesor Epley.

"Sebagai makhluk bumi paling sosial, kita sangat sensitif terhadap mata karena mata adalah jendela ke jiwa seseorang," imbuhnya.

Saat serangan 11 September 2001 pada menara kembar WTC di New York, AS, beberapa orang melihat wajah setan di asap setelah pesawat menabrak satu menara. Contoh lain adalah wajah di obyek-obyek budaya populer pada film Castaway yang dibintangi Tom Hanks.

Dalam film tersebut, karakter yang diperankan Hanks memberi wajah pada sebuah bola dan menamainya Wilson. Ia mengajak bola itu bicara dan akhirnya sangat tergantung pada bola itu.

Berbagai studi membuktikan bahwa obyek-obyek yang memiliki elemen seperti mata dapat membuat kita merasa seperti sedang diamati.

 
Embed Widget

x