Find and Follow Us

Selasa, 21 Mei 2019 | 00:41 WIB

'Peternakan Klik' Jadi Bisnis Besar Media Sosial

Oleh : Ikhsan nathabradja | Rabu, 8 Januari 2014 | 13:00 WIB
'Peternakan Klik' Jadi Bisnis Besar Media Sosial
(AP)

INILAH.COM, San Jose - 'Peternakan klik' banyak muncul untuk membantu pihak-pihak yang ingin meningkatkan keberadaan di media sosial, seperti menambah pengikut di Twitter. Seperti apa?

Selebriti, perusahaan dan bahkan Departemen Luar Negeri AS telah membeli 'like' di Facebook, pengikut atau follower di Twitter atau penonton YouTube dari 'peternakan klik' di luar negeri.

Di 'peternakan' ini, para pekerja meng-klik tanda jempol, melihat video, atau meneruskan komentar untuk meningkatkan jumlah kehadiran di media sosial.

Sejak Facebook diluncurkan hampir 10 tahun lalu, para pengguna mencari cara untuk mengembangkan jaringan sosial mereka untuk keuntungan finansial, mendapat teman, membanggakan diri dan meningkatkan 'clout' profesional. Dan sejumlah perusahaan media sosial mengutip popularitas mereka di media sosial untuk mendongkrak nilai mereka.

Namun, kantor berita Associated Press menemukan semakin banyak pasar global untuk klik palsu, yang oleh sejumlah perusahaan teknologi sedang berusaha dibasmi, demikian lansir VOA.

Berbagai catatan online, studi industri, dan wawancara menunjukkan bahwa berbagai perusahaan sedang mengkapitalisasi peluang ini untuk meraup jutaan dolar dengan mengatur media sosial.

Dengan harga serendah setengah sen untuk setiap klik, laman-laman menjajakan segala hal, mulai dari koneksi di LinkedIn untuk membuat pengguna terlihat lebih menarik di mata pencari pekerja sampai perputaran lagu di Soundcloud untuk menarik perusahaan rekaman.

Peneliti dan blogger sekuritas Italia, Andrea Stroppa dan Carla De Micheli memperkirakan bahwa pada 2013, penjualan pengikut palsu di Twitter memiliki potensi untuk menghasilkan US$40 juta hingga US$360 juta sampai saat ini, dan aktivitas palsu di Facebook dapat meraup US$200 juta per tahun.

Hasilnya, banyak perusahaan, yang nilainya didasarkan pada kredibilitas, memburu pembeli dan makelar dari klik-klik palsu ini. Tapi setiap kali satu orang ditangkap, skema lainnya yang lebih kreatif muncul.

YouTube menghapus miliaran jumlah penonton video musik Desember lalu setelah para auditor menemukan beberapa video ternyata melebih-lebihkan jumlah penonton. Perusahaan induknya, Google, juga terus menerus melawan orang-orang yang mendorong klik palsu dalam iklan-iklannya.

Sementara Facebook, yang melaporkan baru-baru ini bahwa 14,1 juta dari 1,18 miliar pengguna aktifnya adalah akun palsu, juga sering melakukan pembersihan. Hal ini penting bagi perusahaan yang dibangun atas prinsip bahwa penggunanya adalah manusia nyata.

Pada 2013, Departemen Luar Negeri AS, yang memiliki lebih dari 400 ribu 'like' di Facebook, mengatakan akan berhenti membeli penggemar setelah inspektur jenderalnya mengecam lembaga tersebut karena menghabiskan US$630 ribu untuk mendongkrak keberadaan di media sosial.

Dhaka di Bangladesh, kota berpenduduk tujuh juta orang itu disebut merupakan pusat internasional untuk 'peternakan klik' ini.

Menurut CEO WeSellLikes.com, bisnis ini menghasilkan keuntungan besar.

"Perusahaan-perusahaan membeli 'like' di Facebook karena mereka takut ketika orang-orang melihat halaman Facebook mereka dan hanya ada 12 atau 15 'like', mereka akan kehilangan pelanggan potensial," ujarnya.

Di Indonesia, yang penduduknya terobsesi dengan media sosial, juga muncul banyak 'peternakan klik'.

Ali Hanafiah, misalnya, ia menawarkan harga sekitar Rp100 ribu untuk setiap 1.000 pengikut di Twitter dan Rp6 juta untuk satu juta pengikut. Ali memiliki server sendiri dan membayar US$1 per bulan untuk alamat Internet Protocol (IP address), yang digunakannya untuk membuat ribuan akun-akun media sosial.

Akun-akun itu, menurutnya, bisa digunakan untuk membuat banyak pengikut palsu.

"Sekarang ini kita hidup dalam persaingan yang ketat sehingga orang-orang dipaksa melakukan banyak trik," ujar Ali. [mor]

Komentar

x