Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 23 Oktober 2017 | 23:51 WIB

Sindrom Hilangnya Alat Kelamin Mewabah di Afrika

Oleh : Wahyu Perdana Putera | Kamis, 21 Maret 2013 | 08:55 WIB
Sindrom Hilangnya Alat Kelamin Mewabah di Afrika
ilustrasi
facebook twitter

INILAH.COM, Bangui - Benua Afrika dikenal karena kepercayaannya pada hal-hal yang berbau mistis, sihir dan juga ilmu hitam. Kepercayaan tersebut banyak memunculkan sindrom aneh yang dialami para warganya.

Baru-baru ini muncul histeria di sebuah kota kecil di Republik Afrika Tengah. Dua orang pria mengaku alat kelaminnya tiba-tiba hilang.

Usut punya usut, sehari sebelumnya ada pengembara yang mengunjungi kota tersebut yang sempat bersalaman dengan pedagang lokal, yang kemudian terkejut karena secara tiba-tiba alat kelaminnya hilang.

Tangisan pria itu pun memancing sekumpulan orang yang satu orang di antaranya juga mengklaim fenomena yang sama terjadi kepadanya.

Ini bukanlah cerita lucu, tapi ini adalah sindrom psikologis yang disebut 'Koro'. Koro adalah kepercayaan budaya yang seseorang (sebagian besar pria) memiliki keyakinan yang kuat bahwa alat kelaminnya menyusut atau menghilang ke dalam tubuhnya.

Mereka khawatir kondisi tersebut akan mengancam kehidupan seksual maupun kehidupan mereka secara keseluruhan.

Untuk itu banyak dari mereka yang melakukan 'pencegahan' sesuai budaya yang mereka percaya dapat mengamankan 'aset' mereka tersebut, yakni dengan mengikat alat kelamin mereka dengan tali ataupun dengan logam.

Bahkan sering terjadi anggota keluarga mereka ikut menjaga dengan memegangi alat kelamin mereka sampai pengobatannya ditemukan. Biasanya dari shaman (dukun) atau pengobatan tradisional. Koro juga tercantum dalam diagnostik dan statistik 'Manual of Mental Disorders'.

Sindrom ini banyak terjadi di seluruh dunia terutama di wilayah Afrika dan Asia. Di Amerika Serikat dan Eropa, sindrom ini dikenal sebagai sindrom Genital Retraction.

Kasus yang paling sering ditemukan dalam beberapa dekade terakhir adalah di wilayah Afrika, meskipun juga banyak dilaporkan terjadi di Asia.

"Dalam beberapa tahun terakhir, media massa di beberapa negara Afrika Barat telah melaporkan periode 'panik' dalam psikologi para pria dan wanita yang merasa terpukul, bahkan seringkali orang yang dituduh mencuri kelamin mereka dapat dibunuh," tulis Vivian Dzokoto dan Glenn Adams dalam sebuah penelitian yang diterbitkan pada tahun 2005 dalam jurnal Culture, Medicine and Psychiatry.

Hingga saat ini belum ada yang sampai meninggal karena terkena sindrom ini. Namun, kepercayaan terhadap Koro bisa berakibat kematian. Ratusan orang telah dituduh 'mencuri' alat kelamin orang lain, dan puluhan telah terbunuh karena tuduhan tersebut.

Dalam banyak kasus, orang yang menjadi 'korban' akan berteriak dan mencari bantuan untuk membantu menangkap pencuri alat kelamin mereka. Setidaknya ada 56 kasus terpisah yang telah dilaporkan dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir oleh media dari tujuh negara di Afrika Barat.

Korban sindrom aneh ini biasanya mempercayai bahwa sentuhan atau senggolan secara tidak sengaja dengan orang asing dapat menyebabkan alat kelamin mereka hilang. Mereka percaya orang asing dapat 'mencuri' alat kelamin mereka.

Ada kisah tentang seorang pria muda di Ghana yang mengklaim bahwa ia sedang mengambil air dari sumur untuk ayahnya, ketika tiba-tiba ada orang asing di belakangnya yang menyentuhnya. Tiba-tiba ia merasa penisnya menyusut sampai tidak lagi terlihat di tubuhnya.

Koro dapat dipahami dalam berbagai cara. Dari perspektif psikologis dapat dilihat sebagai contoh histeria massa atau delusi, yang kepercayaan pada budaya setempat dapat muncul dalam hidup seseorang, terlepas apakah itu nyata atau tidak.

Menurut Livescience, kepanikan dari penyusutan alat kelamin adalah pengingat bahwa tidak ada seorang pun yang dapat menghindari delusional massal.

Pengaruh budaya dan masyarakat pada perilaku individu juga jauh lebih besar daripada kebanyakan dari kita yang mengakuinya.

Namun alasan utama tidak adanya sindrom penyusutan penis di masyarakat barat adalah kondisi alam yang berbeda. Tetapi delusi apapun sangat mungkin terjadi, jika kepercayaan palsu yang mendasarinya masuk di akal.

Dalam kasus ini kepercayaan tersebut dimungkinkan dari keyakinan mendasar tentang ilmu sihir atau ilmu hitam.

Dari studi yang dilakukan pada 2010, ditemukan bahwa kepercayaan pada ilmu sihir tersebar luas di sejumlah wilayah di Afrika, dengan lebih dari setengah dari responden yang mengatakan mereka secara pribadi percaya dalam ilmu sihir.

Studi yang dilakukan pada 18 negara di wilayah Afrika itu menunjukkan kepercayaan beragam, namun rata-rata 55% dari mereka percaya dalam ilmu sihir.

Kebanyakan masyarakat Barat tidak mempercayai ilmu sihir atau bahkan sindrom Koro, sehingga tidak ada yang mendasari kepercayaan yang akan membuat sindrom tersebut masuk di akal pikiran para warganya.

"Korban kepanikan penyusutan alat kelamin dapat dipulihkan dalam beberapa jam atau beberapa hari," tulis sosiolog Robert Bartolomeus dan Benjamin Radford dalam buku 'Hoaxes, Myths, and Mania: Why We Need Critical Thinking'.

"Namun mereka harus dapat meyakini dirinya sendiri bahwa sindrom tersebut sebenarnya tidak pernah ada, atau hanyalah delusi dan khayalan mereka semata maupun sebuah masalah psikoseksual biasa," tulis dua sosiolog tersebut. [ikh]

Komentar

 
x