Jumat, 24 Oktober 2014 | 20:29 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Sorgum Potensial Sebagai Pengganti Terigu Impor
Headline
inilah.com
Oleh: Nur Ikhsan Suryakusumah
Teknologi - Sabtu, 18 Agustus 2012 | 14:04 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Impor terigu Indonesia cukup tinggi walaupun mayoritas penduduknya mengonsumsi nasi. Namun kenyataannya sejak roti menjadi makanan pengganti beras, maka kebutuhan terigu meningkat.

Saat ini kebutuhan terigu nasional mencapai 6,2 juta ton. Sekarang ini mulai dipikirkan bagaimana mengurangi ketergantungan terigu impor. Adalah sorgum, tanaman asal Afrika mulai dilirik untuk menggantikan terigu.

Selama ini riset pengembangan sorgum sudah dilakukan di sejumlah lembaga litbang dalam negeri antara lain Balitbang Kementerian Pertanian, BPPT, LIPI, BATAN, Universitas Negeri Lampung, Universitas Padjajaran dan Universitas Hassanudin.

Dari hasil riset tersebut telah menghasilkan beberapa varietas unggul sorgum dan pengolahan sorgum menjadi aneka produk pangan, pakan, dan bioetanol. Temuan lainnya, ternyata tanaman sorgum cocok ditanam di lahan suboptimal yang banyak tersebar di Indonesia.

Namun produk sorgum di Indonesia masih terbatas karena produktivitasnya masih rendah. Apalagi banyak petani belum menggunakan sorgum varietas unggulan.

Selain itu belum berkembangnya industri pascapanen seperti pengolahan biji dan batang sorgum menjadi bahan pangan dan pakan. Hal lain tak kalah penting adalah belum berkembangnya permintaan pasar terhadap biji atau tepung sorgum.

Potensi sorgum di Indonesia mendapat perhatian besar Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan serta Menteri Negara Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta dalam diskusi pengembangan sorgum oleh BUMN beberapa waktu lalu dengan melibatkan 53 peserta yang mewakili akademisi, pebisnis, dan pemerintah.

Menurut Dahlan Iskan, saat ini permintaan tepung terigu dalam negeri terus meningkat.

“Gandum terus diimpor sehingga saya perlu menginstruksikan kepada BUMN agar akhir tahun ini harus menanam lima beas ribu hektare tananam sorgum. Dan diupayakan harus terus meningkat supaya konsumsi terhadap tepung terigu impor bisa menurun,” kata Dahlan.

Kemudian Dahlan memuji hasil riset sorgum para ahli Indonesia sangat luar biasa. “Kalau kita bisa memproduksi sorgum dua juta ton dalam setahun sudah bisa mengurangi 30% ketergantungan impor tepung terigu. Kita bisa menghemat banyak, Saya berharap riset-riset masalah pangan dari lembaga litbang dan BUMN,” ujar Dahlan..

Ia mengakui, selama ini hasil penelitian, pengembangan dan rekayasa belum banyak dimanfaatkan oleh BUMN. Padahal selama ini perusahaan BUMN dapat dijadikan sebagai captive market bagi produk-produk teknologi yang dihasilkan lembaga litbang dan perguruan tinggi.

Disebutkannya juga, rencananya Kementerian BUMN akan mengembangkan sorgum pada lahan seluas 15 ribu hektare di empat lokasi yakni Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sumba, dan Banyuwangi.

Pengembangan sorgum ini juga sejalam dengan Masterplan Percepatan Perluasan dan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Dalam program MP3EI terdapat 22 kegiatan ekonomi utama yang tersebar di seluruh Indonesia, dan merupakan potensi perekonomian nasional.

Dalam MP3EI ini, kunci utamanya terletak pada pembangunan ilmu pengertahuan dan teknologi untuk mendukung 22 kegiatan ekonomi utama. Salah satunya produk pangan alternatif sorgum.

“Diharapkan upaya ini dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku komponen impor. Dan ini menjadi salah satu tantangan teknologi yang harus berorientasi domestik,” tegas Dahlan.

Dari hasil penelitian , sorgum merupakan tanaman serelia yang potensial untuk dibudidayakan dan dikembangkan, khususnya pada daerah-daerah marginal dan yang kering di Indonesia.

Keunggulan sorgum terletak pada daya adaptasi agroekologi yang luas, tahan terhadap kekeringan dan produksi tinggi. Selain itu, tanaman sorgum memiliki kandungan nutrisi yang tinggi sehingga sangat baik digunakan sebagai sumber bahan pangan maupun pakan ternak alternatif.

Biji sorgum dapat digunakan sebagai bahan pangan serta bahan baku industri pakan dan pangan. Seperti industri gula, monosodium glutamate (MSG), asam amino, dan industry minuman serta bahan bakar (bioetanol). Dengan kata lain, sorgum merupakan komoditas pengembang untuk diversivikasi industri secara vertikal.

Prospek penggunaan biji sorgum yang terbesar adalah pakan yang mencapai 26,63 juta ton untuk wilayah Asia-Australia dan diperkirakan masih terjadi kekurangan sekitar 6,72 juta ton. Satu ton biji sorgum juga dapat menghasilkan 384 liter alkohol.

Penelitian perbaikan varietas tanaman sorgum melalui pemuliaan tanaman dengan teknik mutasi telah dilakukan BATAN. Para pemulia sorgum dari BATAN mempunyai target dalam risetnya untuk memperbaiki sifat agronomi dan kualitas produk sorgum untuk dikembangkan sebagai sumber bahan pangan dan ternak alternatif di daerah kering, khususnya selama musim kemarau.

Dalam diskusi tersebut, Deputi Kelembagaan Iptek Benyamin Lakitan mengingatkan agar pengembangan sorgum dilakukan secara tepat dan proposional sehingga layak secara teknis, ekonomi dan sosial.

“Sehingga tidak mengulangi kesalahan yang sama, seperti saat mengembangkan jarak pagar sebagai biodiesel,” kata Benyamin. [mor]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER