INILAH.COM, Jakarta - Apple mungkin saat sedang banyak goncangan. Pertama meninggalnya sang pendiri Steve Jobs dan yang terakhir kasus HAM buruh di pabrik supplier mereka di China.
Salah satu pabrik supplier Apple di China adalah Foxconn, yang juga memproduksi merk-merk dunia lainnya seperti Samsung, Microsoft, Amazon, dan lain-lain. Namun dalam waktu dua tahun terakhir menjadi perbincangan dengan munculnya kasus bunuh diri massal serta aksi demonstrasi yang sempat dilakukan oleh para buruh pabrik tersebut.
Beberapa pengamat yang bertugas men-survei tempat produksi tersebut mengatakan bahwa vendor lain menekan buruh mereka, tapi dengan cara yang baik, tidak seperti yang dilakukan oleh Apple.
Namun beberapa pengamat mengatakan bahwa sangat tidak adil untuk 'menghakimi' secara sepihak. Mungkin saja pihak supplier demi memenuhi permintaan kuota produk dari Apple, sehingga mereka memperkerjakan buruhnya di luar batas-batas wajar.
Permintaan yang besar dari pasar terhadap Apple mungkin 'menggiring' mereka menekan Foxconn agar bekerja cepat, demi menyelesaikan pesanan. Bahkan artikel New York Times menulis bahwa jika Apple berkomitmen untuk membuat ponsel 'bebas konflik' tentunya akan mengubah cara kerja roda teknologi, dan membuat mereka bangkrut.
Pada 2010 lalu dunia sempat dihebohkan kasus bunuh diri karyawan suplier Apple, sehingga membuat opini bahwa perusahaan tidak memperhatikan masalah tersebut. Apple untuk pertama kalinya merilis laporan dari para supliernya, yang berjumlah 156 (Sony, Intel, Samsung, Foxconn, dan lain-lain), karena kasus yang menyeret Apple terkait bunuh diri massal karyawan di pabrik Foxconn pada 2010 lalu kemarin.
Apple sendiri kini sudah membuka pintu selebar-lebarnya bagi pihak pengawas yang ingin mengamati kasus bunuh diri di pabrik supplier mereka yang terletak di China. Setelah mendapat banyak kritik karena tidak menyediakan lingkungan kerja kondusif untuk para buruh yang mempopulerkan iPad dan iPhone tersebut, Apple memberitahukan kepada supplier mereka agar membuka pintu selebar-lebarnya bagi para kelompok hak-hak buruh untuk mengawasinya.
Sebuah audit internal tahunan yang dilakukan menunjukkan bahwa 38% dari supplier Apple memberlakukan 60 jam kerja dalam sepekan dan satu hari per pekan. Dalam laporan yang bernama Supplier Responsibility Report 2012 tersebut, Apple mengatakan bahwa mereka telah menemukan sedikit pelanggaran pada 2011 ketimbang 2010, berdasarkan 229 audit yang dilakukan tahun lalu.
Audit yang dilakukan sempat menemukan bahwa 50 persen dari pegawai mereka telah melampaui 60 jam kerja dalam sepekan. Lalu para pabrik supplier tersebut tidak membayar lembur yang sesuai dengan hukum berlaku, mengabaikan hari libur, memperkerjakan anak-anak di bawah umur, lingkungan kerja tak sehat dan masih banyak yang lain-lain.
Setelah beberapa pekerja mengancam akan melakukan bunuh diri massal karena diberlakukan secara tidak adil oleh perusahaan, Foxconn sebagai salah satu suplier, mengatakan bahwa masalah dengan karyawannya telah terselesaikan.
Sudah sepatutnya tahun ini kasus HAM atau kesejahteraan buruh pabrik-pabrik suplier Apple dituntaskan. Karena suka atau tidak hal tersebut sangat mempengaruhi imej Apple itu sendiri. [mdr]